Kamis, Agustus 07, 2014

Bag-2: SEJARAH SIPIROK: Pemekaran Angkola en Sipirok, Controleur Berkedudukan di Sipirok

*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe


Peta Ankola 1843-1847
Dalam bagian pertama artikel ini, Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 7, tanggal 7 Juni 1871 (Staatsblad No. 83) pasal Keresidenan Tapanoeli sudah dikutip sebagian yang berkenaan dengan wilayah Sipirok. Berikut disalin kembali: Keresidenan Tapanoelie terdiri dari tiga afdeeling (Siboga, Mandheling en Ankola, dan Natal) plus Pulau (eiland) Nias. Afdeeling Siboga terdiri dari tiga onderafdeeling, yakni: Siboga, Baros dan Singkel. Di onderafdeeling Siboga terdapat 16 kepala hakuriaan (koeriahoofd), empat diantaranya: Marantjar, Si Angoenan, Hoeraba dan Batang Taro.

Afdeelingnya Mandheling en Ankola sendiri terdiri dari tiga onderafdeeling yakni: (1) Onderafdeeling Groot-Mandheling, (2) Onderafdeeling Kleine Mandheling, Oeloe en Pakantan, dan (3) Onderafdeeling Ankola en Sipirok. Di dalam Onderafdeeling Angkola en Sipirok terdapat 14 kepala hakuriaan (koerihoofd), yakni:

1.      Kampong Baroe
2.      Si Mapil Apil
3.      Saboengan
4.      Batoe nan Doea
5.      Oeta Rimbaroe
6.      Si Pirok
7.      Bringin
8.      Praoe Sorat
9.      Soeroemantigi
10.  Pintoe Padang
11.  Si Galangan
12.  Moeara Thais
13.  Pitjar Koeleng
14.  Si Ondop

Pada tahun 1871 Keresidenan Tapanoelie masuk dalam Gouvernement Sumatra’s Westkust. Residen Tapanoelie berkedudukan di Siboga. Controleur Ankola en Sipirok berkedudukan di Padang Sidempoean. Juga, Asisten Residen Mandheling en Ankola berkedudukan di Padang Sidempoean. Secara geografis, hakuriaan paling dekat dengan pusat pemerintahan di Padang Sidempoean adalah hakuriaan Kampong Baroe (diteruskan oleh Losoeng Batoe), sedang yang paling jauh adalah hakuriaan Sipirok, Baringin dan Parau Sorat.

Pemekaran Onderafdeeling Angkola en Sipirok dan Berkedudukan di Sipirok

Wilayah Sipirok (tiga hakuriaan) pelan tapi pasti, semakin berkembang. Kegiatan pembangunan berlangsung dalamm berbagai bidang: pembangunan infrastruktur (jalan dan jembatan), pengembangan ekonomi dan perdagangan (pangan dan kopi), serta penyiapan fasilitas pendidikan untuk penduduk. Untuk bidang kesehatan masih terabaikan: situasi kesehatan belum membaik, wabah cacar masih berjangkit.

Kesehatan. Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 06-02-1875: ‘cacar masih terjadi di Angkola, Sipirok dan Goenoeng Toea’.

***
Berita baru berhembus dari Batavia via Padang ke Padang Sidempoean. Kantor Asisten Residen Mandheling en Ankola di Padang Sidempoean via Conroleur Ankola en Sipirok berita itu cepat menyebar ke 14 hakuriaan yang ada di Onderafdeeling Ankola en Sipirok. Apa isi berita baru itu?

Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 24-02-1875: ‘berdasarkan Surat Keputusan tanggal 11-02-1875 No.2 (Staatsblad No. 2) ditemukan bahwa koeria Sipirok, Goenoeng Bringin dan Praoe Sorat di Onderafdeeling Angkola en Sipirok (Afdeeling Mandheling en Angkola, Residentie Tapanoeli) untuk memisahkan mereka, dan menyatukannya menjadi satu onderafdeeling yang akan dikepalai oleh seorang Controller (pangkat kelas 2) dan berkedudukan di Sipirok sebagai lokasi yang ditunjuk. (Koran ini juga menyebut bahwa Controleur) ‘dibantu satu orang pribumi sebagai juru tulis dengan gaji f 20 per bulan, dan dua orang sebagai pengawal yang masing-masing mendapat gaji f 10 per bulan’.

Polemik Misionaris

Laporan van Daalen dan Dammerboer pernah dikutip koran. T.A.W Schreiber di Praoe Sorat pernah menulis di koran. Kini, giliran Klammer yang menulis di koran.

De locomotief: Samarangsch handels-en advertentie-blad, 05-03-1875 (melansir Alg. Dagbl. van NI/Sumatra Courant): ‘misionaris Klammer menulis di koran Padang (Sumatra Courant) untuk menanggapi isu yang semakin berkembang. Klammer sendiri mengeluh tentang kebijakan pemerintah Belanda. Klammer menepis anggapan bahwa orang Batak yang telah memeluk Islam tapi tidak kami membantu mereka sedikitpun untuk kembali ke agama lama mereka lagi, ini terutama terjadi di Ankola dan Sipirok. Kenyataanya adalah bahwa fakta ada beberapa (orang) Melayu yang tadinya menempatkan diri (di Ankola en Sipirok) sebagai pedagang dan beberapa diantaranya ditunjuk pemerintah oleh sebagai pejabat pemerintah. Tampak ini berubah dengan cepat untuk mengantisipasi penyebaran Injil, pejabat pengawas keuangan terhadap para penziarah diizinkan untuk bergerak bebas (akses naik haji), karena Gubernur sendiri menyatakan bahwa pemerintah agak acuh tak acuh, apa pun agama orang Batak, Christian, Pagan atau Mahometans (Islam), itu yang sering mereka inginkan, selama mereka mengikuti perintah pemerintah seperti penanaman kopi dan membangun jalan’.

Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 24-03-1875 (sebuah tinjauan/esai): ‘perubahan yang tidak menguntungkan bagi misionaris, melalui serangkaian terobosan saling dibesarkan membendung kebijakan pemerintah ini. Untungnya konsekuensi yang tidak menyenangkan dari disebabkan karena liberalisme dari cotroleur tidak cukup merugikan tetapi kondisi lain yang cenderung Islam mengambil giliran ditambahkan lebih menguntungkan. Untuk tujuan penduduk asli yang tepat mudah memperoleh untuk melakukan perjalanan ini untuk dibawa ke Mekah dan sehingga menciptakan banyak orang-orang menjadi hadji Muslim di Hindia Belanda, spekulatif memiliki koneksi langsung kapal uap Eropa antara Hindia Belanda dan Mekah seakan dilengkapi. Langt hem terug. Memang berat untuk bersaing di dataran tinggi Sipirok melawan Islam, kesempatan sebagai hadjie seakan menambah pasukan baru terhadap kekristenan. Apakah tidak menutupnya saja sekarang dan supaya kemudian diatasi?’.

Komisi Pendidikan dan Sekolah Misionaris

Harapan meningkatnya kualitas penduduk di Sipirok semakin kencang. Wabah penyakit sudah mulai mereda dan mutu pendidikan semakin ditingkatkan. Lulusan sekolah negeri yang sudah didirikan di Sipirok dan Bunga Bondar diharapkan mutunya semakin meningkat, demikian juga dengan di sekolah yang dikelola misionaris.
 
Kesehatan: Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 12-04-1875. Di Angkola dan Si Pirok cacar (pokziekte) sudah mulai mereda.

Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 01-05-1875: ‘Pengawas sekolah yang dirangkap oleh A. Laarhuis untuk Sipirok dan Boengabandar diangkat sebagai anggota komisi sekolah untuk Keresidenan Tapanoeli’. (Koran ini juga menyebutkan bahwa) ‘diangkat E. Winckel, pejabat kelas-2 pada layanan sipil di kantor Controller Onderafdeeling Angkola en Sipirok akan bertugas untuk dua wilayah (Sipirok dan Bunga Bondar)’.

Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 03-07-1875 (surat dari pembaca): ‘kondisi sekarang tentang hal misi di Bataklanden. Ini hanya sekadar sketsa, tapi saya percaya, bagaimanapun, bahwa sepenuhnya tidak diinginkan oleh banyak pengikut lainnya. Rijnsche Zendeling-genootschap te Barmen di Bataklanden sekarang memiliki sembilan (stasiun) misi (tiga diantaranya berada di Sipirok, Bunga Bondar dan Prau Sorat) dengan 10 misionaris dan 16 pembantu dari pribumi (guru dan kepala sekolah).


Infrastruktur dan Transportasi

Peningkatan infrastruktur dan kebutuhan transportasi semakin dirasakan. Juga kebutuhan untuk layanan di bidang hukum. Semuanya dimaksudkan untuk lebih menjamin terlaksananya pembangunan dan pengembangan masyarakat di wilayah Sipirok.

Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 07-07-1875: ‘sebanyak dua puluh adjunkt Djaksa (pihak pribumi) di Governement Sumatra’s Westkust, (termasuk) di Sipirok dengan gaji f 30 per bulan, sementara untuk yang mewakili dari golongan Islam mendapat gaji sebesar f 15 per bulan’.

De locomotief: Samarangsch handels-en advertentie-blad, 17-07-1875: ‘Pembangunan jalan yang bisa dilalui pedati dari Sipirok ke Bunga Bondar dan ke Parau Sorat sepanjang empat tiang. (koran ini juga melaporkan) ‘sebanyak 23 pos antara Sipirok dan Padang Sidempoean dibangun. (juga koran ini memberitakan) ‘sekolah negeri perluasan (semacam sekolah persiapan) untuk pribumi di Prau Sorat kapasitasnya masih terlalu sedikit, peserta didik yang ada baru sebanyak 10 murid’.

Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 08-09-1875: ‘di Si Pirok hasil panen tidak terlalu menggembirakan karena kondisi khusus alam yang tidak menentu. Namun pembelian kopi masih berlangsung secara teratur. Perdagangan dan pengiriman (dari Sipirok) tetap lancar’.

Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 08-09-1875 (pengumuman tender pemerintah): ‘Gouvernour van Sumatra’s Weskut membuka tender untuk kegiatan (pekerjaan) transportasi sipil dan militer untuk pemerintah, wisatawan dengan keluarga dan barang-barang mereka, semua kopi pemerintah, barang swadaya masyarakat lainnya, baik pertimbangan militer, sipil dan pemerintah yang meliputi berbagai rute, diantaranya: (f). antara Padang, Siboga dan Loemoet dan tempat-tempat yang berbeda dan berada di wilayah Onderafdeeling Ankola en Sipirok’.

Pembagian wewenang pembangunan tampaknya sudah terdistribusi. Untuk urusan pengadaan transportasi masih kewenangan pemerintah provinsi (gouverneur) sedangkan urusan pengembangan ekonomi dan perdagangan adalah urusan daerah (afdeeling dan onderafdeeling).

Mutasi dan Perubahan Administrasi

Administrasi pemerintahan adalah instrumen penting dalam mengelola masyarakat sipil. Perubahan administrasi dilakukan boleh jadi dimaksdukan untuk memperluas kebutuhan pemerintah (efisiensi) atau mempersempit hal yang merugikan pemerintah (efektivitas). Salah satu yang luar biasa adalah bahwa posisi Asisten Residen yang sebelumnya untuk membawahi Afdeeling Mandheling en Ankola dipindahkan (dialihkan) untuk membawahi Afdeeling Siboga. 

De locomotief: Samarangsch handels-en advertentie-blad, 09-10-1875: ‘pada bulan September dilakukan perubahan komisi sekolah pribumi untuk Natal, Baros, Si Mapil Apil sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 1, § a, Surat Keputusan tanggal 29 Oktober 1872, Nomor 37 yang dikaitkan dengan Batoe nan doea, Sipirok, Boengabandar, Panjaboengan. Muara Sama, Kota Nopan, Muara Sipongi dan Singkel (Keresidenan Tapanoeli, Gouvernement Sumatra’s Westkust) yang selanjutnya hanya akan terdiri dari lima anggota, termasuk ketua’. [catatan: A. Laarhuis, salah satu anggota dari lima komisioner dan (sudah) mewakili Sipirok dan Bunga Bondar].

De locomotief: Samarangsch handels-en advertentie-blad, 16-10-1875: ‘tindak lanjut pelaksanaan (ke)rapat(an) di seluruh Governement Sumatra’s Weskust pada tangga 1 November, yang bertanggung jawab untuk mewakili pribumi sebagai petugas pengadilan (officier van justitie) di dalam institusi Rapat adalah sebagai berikut: untuk Si Pirok diangkat Si Gali galar Dja Alim. (koran ini juga memberitakan) ‘Si Paromau galar Pertoean Saugkoepan sebagai koeriahoofd di Si Pirok’.

Java-bode: nieuws, handelsblad-en advertentieblad, 01-12-1875: ‘yang bertugas untuk mewakili pribumi sebagai petugas pengadilan di dalam Rapat untuk Si Pirok, Si Gali galar Dja Alim ditarik (dan digantikan) oleh Ephraam, seorang juru tulis pribumi di kantor Controleur di Si Pirok’.

Perubahan posisi Asisten Residen: dari Afdeeling Mandheling en Angkola ke Afdeeling Siboga, kapasitas Contreleur Onderafdeeling Angkola en Sipirok semakin diperkuat

Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 19-01-1876: ‘dilakukan konprensi pers secara terbatas oleh Gubernur pada tanggal 31 Desember 1875, sebagai tindak lanjut implementasi dari keputusan tanggal 13 Maret 1873 (Staatsblad No 51) yang berbunyi sebagai berikut: (a) kekuasaan atas Afdeeling Mandheling en Angkola untuk posisi asisten residen ditiadakan dan dimasukkan sebagai tugas Resident Tapanoelie yang dilaksanakan jika sudah terlaksana penambahan satu Controleur (sederhana) khusus untuk Onderafdeeling Angkola en Sipirok, (b) untuk menarik jabatan Asisten Residen di Afdeeling Mandheling en Angkola’. [catatan: pembentukan controleur di Sipirok, Onderafdeeling Ankola en Sipirok tampaknya sudah terlaksana sebagaimana berita-berita sebelumnya].

Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 22-04-1876: ‘E. Winckel diberhentikan. G.A. Wilken diangkat menjadi penganti Winckel di Sipirok dan Boengabondar. (koran ini juga memberitakan) Pertoen Sang Koepan diangkat sebagai koeriahoofd Sipirok; Maharadja Bonjok diangkat sebagai koeriahoopd Prau Sorat; Soetan Kabiaran diangkat sebagai kamponghoofd di Boengabondar’.

De locomotief: Samarangsch handels-en advertentie-blad, 27-04-1876: ‘ditugaskan Soetan Nagari, kamponghoofd van Batoe Na Doea Djai dan Sutan Kamoelian sebagai vaksinator di Ankola en Sipirok’.

De locomotief: Samarangsch handels-en advertentie-blad, 29-04-1876: ‘dalam Surat Keputusan Pemerintah/Peraturan Pemerintah 1876 (Staatsblad, No. 111) di dalam institusi Rapat di Si Pirok (Tapanoeli), tidak ada konpensasi dibayar kepada imam Mahomedaansch (tokoh mewakili Islam) (yang akan ditambahkan)’.

Rapat adalah suatu dewan (institusi) yang dibentuk pemerintah di bidang peradilan (raad van justitie). Institusi ke(rapat)an ini ada pada setiap level pemerintahan mulai dari Gouvernement, Residentie, Afdeeling hingga onderafdeeling. Anggota dewan merupakan kombinasi Belanda (umumnya pejabat pemerintah) dan pribumi (tokoh masyarakat dan atau tokoh keagamaan).Untuk pimpanan rapat (ketua siding) anggota dewan yang berasal dari dewan yang berada di wilayah lain. Jenis kasus yang ditangani sesuai dengan level ke(rapat)an. Untuk posisi jaksa ditunjuk atau diangkat oleh pemerintah sebagai pejabat pemerintah.

Penghapusan Perbudakan

Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 28-06-1876: ‘Gubernor van Sumatra’s Westkust menerima telegram pada tanggal 21-06-1876 dari onderafdeeling Si Pirok telah dilakukan pembebasan budak (emansipasi budak). Para budak menunjukkan rasa  sukacita dan syukur. Hal ini juga ditunjukkan oleh para umat Islam dan pengikut Kristiani’.

Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-09-1876: ‘laporan yang bersumber dari Gubernur Sumatra’s Westkust yang didalamnya termasuk pembebasan budak di Sipirok berlangsung 21 Juni 1876. Di Sipirok sendiri terdaftar sebanyak 783 budak. Jumlah ini pada dasarnya telah berubah dan berkurang menjadi 773. Dari jumlah yang ada ini sebanyak 15 budak telah ditebus dan sebanyak 65 budak telah meninggal sehingga yang tersisa sebanyak 693 budak. Namun demikian ada penambahan karena kelahiran, yang terdiri dari 55 laki-laki dan 54 perempuan. Dengan penambahan sebanyak 109 yang lahir maka total keseluruhan menjadi 802 budak’.

Bataviaasch handelsblad, 25-09-1876: ‘laporan yang bersumber dari Gubernur Sumatra’s Westkust yang didalamnya terdapat bahwa pembebasan budak di Tapanoeli tidak mudah. Warga Sipirok melakukan demonstrasi besar-besaran karena adanya rumor bahwa budak dianggap jenis properti dan sumber utama pendapatan bagi pemilik dan dalam pembebasan ini pemerintah ingin membeli budak laki-laki untuk dijadikan sebagai prajurit untuk mengirim mereka ke Aceh dan menjadikan budak perempuan sebagai pelacur. Para demonstran ingin memastikan hal itu tidak terjadi. Di Penjaboengan, ibukota Groot Mandheling kerusuhan meningkat. Atas kejadian ini para kepala koeria mengatakan bahwa mereka mengundurkan diri dari kompensasi yang akan diberikan pemerintah sebanyak £ 15.000. Para budak telah mengancam dan akan membunuh para koeria ketika jika para koeria menyerahkan mereka ke pemerintah dan juga akan membakar rumah koeria. Atas kisruh ini, dan kemungkinan untuk deklarasi umum secara gratis dan kemudian dimerdekakan pemerintah menghargai dan untuk dipertimbangkan. Kemungkinan cara itu lebih bermanfaat’.

Pengajaran. Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 14-10-1876: ‘dr. Schreibei di sekolah pelatihan zendelig di Prau Sorat (Si Pirok) menghasilkan buku cerita populer tentang struktur tubuh manusia’.

Pertambangan. Algemeen Handelsblad, 05-07-1877 (iklan, isinya antara lain): ‘dibutuhkan seorang geolog untuk ditugaskan di Siboga en Sipirok, Tapanoelie’.

Netralitas Pemerintah, Keamanan di Silindoeng dan Islam di Sipirok

Wilayah Sipirok semakin kondusif (pemerintahan, pembangunan dan keamanan), tetapi tidak di utara wilayah Sipirok. Meski sudah ada misionaris di Silindoeng dan sekitarnya, namun dikabarkan situasi keamanan justru makin menegangkan. Sejauh ini, keterlibatan tangan pemerintahan sipil dan militer belum ada di wilayah Silindoeng.

Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 14-11-1877: ‘di Sipirok pada tanggal 3 dan 4 Oktober 1877 telah diadakan pertemuan antara para kepala koeria dengan pemerintah’.

Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 09-02-1878 (surat pembaca dari Aek-Goeloe, 24 Januari 1878): ‘sekitar tiga minggu lalu di suatu kampong, wilayah independen Silindoeng telah terjadi tindakan pembunuhan. Awalnya mulanya terdengar di kegelapan massa sekitar seratus orang dengan senjata, bedil dan tombak mendekati kampong. Lalu ada teriakan, tangisan, suara tembakan dan tebasan. Paginya setelah matahari bersinar, terbukti ada pembantaian, sejumlah badan dimutilasi tersebar di seluruh kampong, barang-barang penduduk dijarah. Kemungkinan diduga geng Sisingamangaradja, apakah tidak perlu dihentikan militer agar tidak meluas ke tempat lain? Beberapa orang berhasil melarikan diri ke Sipirok dan Simangambat, tetapi ada sebanyak 25 wanita, anak-anak perempuan dan anak-anak kecil berada ditangan musuh. Akan tetapi siapa musuh ini dengan siapa mereka dituduh? Apa yang akan dilakukan pemerintah? Mari kita berharap bahwa mereka akan tahu di mana untuk menempatkan dalam kebijaksanaannya’.

Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 12-02-1878 (suatu esai berjudul ‘Het Mohamedannisme: II. Wie niet tegen mij is, is voor mij’): ‘kemampuan kelenturan dan penyelesaian Islam mencerahkan ekspansi yang cepat dalam hal apapun. Tak terkecuali, yang terutama terjadi di Islam muda di Angkola, Mandheling dan Padang Bolak.  Kecemburuan terhadap Islam adalah untuk memerangi sulit. Ribuan peziarah ke Mekah, yang melakukan perjalanan mahal setiap tahun, perjalanan bahwa nasib banyak orang memutuskan, tanpa pikiran lain selain terinspirasi untuk mencapai tahap yang lebih tinggi kesucian, dan kemudian memperluas iman mereka sebanyak mungkin. Tampaknya, dampak mengejutkan memiliki orang-orang yang datang dari berbagai kalangan masyarakat.

Mereka merampas satu dekade untuk seluruh negara Batak, seluruh orang bodoh primitif. Saksi kunci tahu pernyataan ini kita temukan dalam sejarah orang-orang battaksche dalam puluhan tahun tahun terakhir, dan kita semua memiliki alasan untuk menganggap bahwa itu adalah di negara-negara lain di Kepulauan Hindia Belanda. Dr Junghuhn, yang pada tahun 1840 mengunjungi Battaklanden, lanskap Mandheling, Angkola dan Sipirok sekarang, dia akan memiliki mata dan telinga tidak lagi percaya. Budaya kopi, serta meningkatnya kekayaan akan jatuh membawa pergi semua persetujuannya. Apa yang akan dia katakan dari yang telah berubah? Beberapa semangat religius dan fanatisme Batak, setelah pada umumnya diambil adalah orang-orang jinak?  Kapala koeria, yang terus sisi haji rasa semangat konversi untuk pergi. Terkejut tidak mungkin untuk menjaga dari Angkola serta sejumlah besar orang-orang muda sebagai peziarah akan ke Mekkah dari Sipiroksche, seperti yang telah terjadi di saat terakhir dalam kebenaran. Tidak hanya haji, tapi setiap bertobat akhirnya Djaksa, penulis, kepala sekolah pedagang, bangsawan, kapten kapal, tentara, perempuan pasar, dan bahkan anak; semua disebut dengan semangat yang sama seperti para ulama dan mullah.

Ketika Battakkers, serta di hampir semua bangsa di Kepulauan Hindia Belanda, hampir setiap politik, sipil dan keluarga operasi dengan agama terhubung erat. Setiap tindakan negara, sebuah ekspedisi, perang, setiap akuisisi jabatan publik, setiap tindakan pengadilan, setiap rakyat itu, risalah apapun, setiap sumpah penting apapun. Singkatnya, segala sesuatu dan semua orang di kehidupan publik dikuduskan oleh doa. Begitu juga semua peristiwa famili yang dari beberapa arti dari  pernikahan, kelahiran, penyakit dan kematian.

Ada terus kontrol netral hanya memerintah oleh serangkaian hukum yang sebagian seluruhnya orang asing tanah telah dikembangkan dan massa sehingga untuk berbicara, bermain dengan semacam tidak suka, sehingga melempar orang sendiri dengan gairah dalam pelukan Mohammedanism, bahwa baik dalam agama dan dalam arti politik, itu tidak yang paling jauh jangkauannya janji. Kita tidak boleh disesatkan oleh peradaban meningkatnya orang-orang di sekolah normal dan primer, atau dengan dua puluh atau lebih medali yang telah diberikan gubernur sebagai tanda kehormatan bagi pelayanan yang setia dalam beberapa tahun terakhir untuk kepala Battakkers, atau dengan proposal pernikahan dari Padang Bolak, Siliendoeng dan Pangariboean ke orang tua melindungi bendera Belanda untuk datang hanya sarana untuk sampai ke tujuan, yaitu untuk mendapatkan keuntungan’.

De locomotief: Samarangsch handels-en advertentie-blad, 26-04-1878: ‘diangkat sebagai wakil djaksa (adjunct djaksa) di Sipirok, Si Ephraim’.

Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 18-06-1878: ‘laporan operasi dari para insinyur selama taruhan kuartal pertama tahun berjalan eksplorasi geologi di bagian Angkola Sipirok Maret dihentikan, mengungkapkan informasi baru geao untuk ekstraksi mineral’.

Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 24-10-1878: ‘Kongsie Koeria dalam perdagangan kopi. Kongsie ini merupakan bentuk perlawanan terhadap institusi yang sudah ada (pakhuismeeiters dan koffie mantries) yang sering main mata dengan pihak partikelir terdapat di Sipirok, Padang Sidempoean, Muara Sipmgie dan Natal’.

Dari Sipirok ke Silindoeng dan Toba

Pemerintahan sipil di wilayah Sipirok semakin efektif di Sipirok. Pemekaran onderafdeeling Angkoaa en Sipirok dengan dibentuknya onderafdeeling Sipirok kegiatan pembangunan social ekonomi semakin kondusif. Hal yang berbeda dengan di wilayah tetangga Sipirok yakni Silindoeng dan Toba. Permasalahan keamanan terutama dalam kegiatan misi sudah mulai teratasi. Sulit bagi Islam memasuki wilayah Silindoeng, tetapi Kristen sudah mengakar di Sipirok.

Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 21-01-1879: ‘Sumatra diperbolehkan untuk mendirikan sekolah pribumi pembantu (untuk memperluas keterbatasan pemerintah). Dari kalangan misionaris yang diperbantukan adalah Thomas untuk Sipirok dan Petrus untuk Prau Sorat dan Marcus yang sebelumnya untuk Pangaloan dipindahkan ke Lantjat’.

Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 22-04-1879 (surat dari pembaca, K. van Stijgen di Silindoeng yang ditulis tanggal 1 April 1879): ‘Sekitar tengah hari aku pergi satu jam ke arah timur dimana tempat benteng Itadja Deang pernah terjadi pertempuran. Aku duduk di bawah pohon  dan menatap ke sekeliling, yang ada begitu liar. Para tentara pergi mencari desa-desa dibakar. Pada sore hari, sekitar pukul 3.00 pasukan kembali. Hari keempat kami berangkat dari Balige ke Onan Geang-Geang, di mana ayah Singa Mangaradja hidup, ada juga beberapa desa dibakar, penduduk melarikan diri. Kemudian kami berada di mana lanskap desa yang besar terletak Pintoebosi dan juga, ada penduduk melarikan diri. Keesokan hari untuk Bahalbatoe, di mana kami tiba sekitar pukul 5 sore hari. Dan dengan demikian afgelo espeditie terbuka. tujuannya dicapai meski dengan sarana dan bahan yang terbatas, namun dengan dukungan soldier yang berani di bawah kepemimpinan yang baik. Tentunya tidak ada yang bisa bersukacita atas dari saya. Masih lebih dari delapan hari aku harus tetap di sekitar Residen di Bahalbatoe untuk bertindak sebagai penerjemah.

Secara bertahap menarik pasukan sudah lebih mendekati Peradja dan kampung halaman saya. Kami memiliki makanan yang berlimpah untuk berkat, yang telah membuat kami semua dalam hidup, kesehatan. Setelah kedatangan kami masih mengadakan pertemuan publik yang besar di Sipoholon. Mereka harus mengambil sumpah untuk mengikuti. Perintah dari Coutroleur sebagai wakil dari Residen di Sipoholon sekitar setengah jam berjalan kaki dari stasiun yang zendelingleeraar Alohris, dimana sebuah benteng dibangun, yang diduduki oleh 80 tentara.

The Coulroleur Pluygers memiliki rumah bouweu boveu Peradja, 20 menit dari sini, sebanyak 506 desa di Siliendoeng memiliki semua onderworpeu dari setiap tenaga kerja desa untuk menjelaskan dari Siliendoeng ke Siboga. Jadi perang berakhir dan kami telah kembali dengan keberanian baru bersama tenaga kerja. Apa yang sekarang dari operasi-operasi militer yang bersangkutan, jadi ini benar-benar bermanfaat. Pemerintah sepenuhnya butuh di dataran tinggi Toba hanya segala sesuatu di urutan yang baik, pemerintah belum dimasukkan ke dalam pemerintahan biasa, permasalhan dari arah Aceh masih terlalu penuh.

Oh well, misi kami lebih baik seperti sekarang. Tanpa pasukan akan gagal kita, dan dengan berbuat demikian akan Islam masuk, namun, kami punya waktu pertama Siliendoeng untuk kemudian dapat bekerja, lebih banyak kekuatan di Toba. Pemerintah tidak akan bekerja melawan kita, sebagaimana di luar Toba. Supremasi lebih Belanda akan hal ini, kita tidak perlu rasa takut. Sekarang bisnis kami mengatur persiapan untuk mendapatkan kekuatan yang cukup dan sarana, bahwa kami di waktu dapat pekerjaan rohani sudah ada Siliendoeng. Penawaran telah menjadi dan perang dilakukan dengan baik,  penduduk Toba datang kemari banyak untuk menetap di sini terutama mereka yang desanya dibakar kedatangannya ke sini, dan jumlah mereka akan terus meningkatkan yang pada gilirannya kegiatan penginkilan secara bertahap akan dikenal di dataran tinggi Toba, berdampak pada penduduk akan dengan demikian kuat. Mungkin juga dilengkapi dengan wilayah Singa Mangarailja, hanya masalah waktu, sehingga lapangan kerja kami panjang dan dengan sendirinya akan secara signifikan memperluas itu, Untuk Balige diperlukan biaya yang jauh lebih banyak untuk membangun seperti selamanya. Menurut klaim Battakkers, kini telah didirikan pada misionaris Deli dari timur datang ke Balige, karena mereka terlalu jauh di utara untuk tujuan ini didirikan. Nah, bisa dipastikan bahwa mereka akan menemukan firman tuhan.

Oleh karena itu kami menyambut aksesi mereka, meskipun satu dapat berbuat banyak untuk menghitung dalam masa transisi. Banyak bergabung dengan kami, itu akan lebih baik. Berdoa syafaat dalam litigasi dengan harapan kita mendapatkan di sini seperti negara dimana saudara-saudara kita telah melakukan pergulatan di Sipirok. Hanya kami memiliki lebih dari mereka ini sebelumnya. Islam masih sulit menembus sini, sementara Kristen sudah berakar di sana. Kita berharap sebelum kita lanjut 10 tahun, seluruh Siliendoeng menganut tuhan Kristen akan diadopsi di sini. Sebagai zendelinglecraar Nommensen saya meminta Anda, benar atau salah ketika saya menyatakan bahwa tampilan zendelings  tidak lebih dari sekilas dan unsur militer tidak membiarkan keadilan untuk pengkhotbah damai Kristen tidak disebut sejarah perang yang akan diberikan? 

Namun menulis Pendeta Nommensen bukan tanpa nilai sejarah; ia menanggung cap kebenaran, dan kemudian dalam banyak hal bagaimana dengan singkat tapi kuat dan tegas pemerintah masuk Siliendoeng dan Toba. Misionaris RMG di Battaklanden dengan hormat bahwa perang yang dilakukan pemerintah tidak bisa disalahkan apapun dan layak usaha mereka, juga dianggap sebagai staudpuut politik murni kolonial. Honor dan puji bagi pasukan kita berani dan  energik dan komandan pemberani, yang dalam semua perwira dan prajurit ditanggung bersama. Kehormatan dan pujian terutama kepada kebijakan Resident, yang diberkahi dengan pengetahuan luas, tanah subur dan rakyat Batak, kekuatan dan keberanian militer dengan tindakan kolaboratif, setidaknya menjadi tiga kali lipat lebih baik. K. van Stijgen’.

Arah pembentukan pemerintahan sipil di era Hindia Belanda di Tanah Batak tidak lepas dari arah penguasaan pemerintahan militer. Prosesnya dibagi ke dalam beberapa etape: Natal, Panjaboengan, Padang Sidempoean, Sipirok, Silindoeng dan Toba. Di etape Sipirok bisa dikatakan sebagai titik belok paling kritis yang harus dilalui dalam perjalanan sejarah pembentukan pemerintahan sipil di Tapanoeli.

Catatan:

  • Sumber utama (dalam tanda kutip) merupakan sari berita yang relevan dengan artikel ini. Sumber lain (ditulis anonim) hanya sebagai informasi pendukung agar konteks ‘berita’ sesuai.
  • Isi artikel ini dibuat seorisinil mungkin, hanya berdasarkan informasi (surat kabar) yang tersedia. Kemungkinan adanya ‘bolong-bolong’ di sana sini, silahkan para pengguna (pembaca) melengkapi dan menginterpretasi sendiri. 

(bersambung)



Bag-3: SEJARAH SIPIROK: ‘Berperan dalam Proses Pembentukan Pemerintahan di Silindung dan Padang Lawas’

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: