30/11/14

Bag-6. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Banyak Jalan Menuju Padang Sidempoean; Jembatan Batang Toroe Terpanjang di Nederlansche Indie’



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana Kota Padang Sidempuan tumbuh di masa doeloe? Mari kita lacak!

***
Dimana ada jalan di situ ada penduduk, sebaliknya dimana ada penduduk di situ ada jalan. Bagaimana lanskap Ankola, Mandheling dan Pertibie (kemudian menjadi Padang Lawas) muncul dan terhubung di masa doeloe kita hanya bisa merujuk pada era Hindu/Budha. Namun itu masih tetap sebuah pertanyaan besar alias misteri. Situs Siaboe di Sungai Batang Ankola dan Situs Batang Pane/Batang Baroemoen diduga memiliki peran dalam masa-masa awal dalam eskplorasi emas era Hindu/Budha. Pertibie-Ankola terhubung di Pitjar Kolling dan Baroemoen-Mandheling terhubung di Siaboe. Namun di era ekspedisi militer Belanda, posisi Pitjar Kolling (kini Pijor Koling) kemudian menjadi pilihan utama untuk menghubungkan Mandheling, Ankola dan Pertibie karena posisi Siboga sebagai entry point.      

Oleh karenanya, jauh sebelum Kampong Si Dimpoean ditemukan oleh orang Belanda untuk mereka bangun menjadi sebuah kota yang kini dikenal sebagai Kota Padang Sidempuan, lalu lintas orang dan barang di Tanah Batak (kemudian menjadi Tapanoeli) sesungguhnya tidak pernah melewati Kampong Si Dimpoean. Akan tetapi jalur militer Belanda Pitjar Koling (Ankola Djai) dan Tobing dekat Oeta Rimbaroe (Ankola Djoeloe) via Siondop (hulu Sungai Batang Ankola). Jalur militer Belanda ini besar kemungkinan adalah jalur lama yang digunakan oleh padri yang sudah lama dirintis oleh penduduk Ankola, Mandheling dan Pertibie pada era perdagangan garam. Sementara jalur perdagangan awal lainnya adalah Sipirok ke Pertibie via gunung (Manoengkap) dan Sipirok-Siboga via daerah aliran Sungai Batang Toru. Relasi yang kuat antara Ankola-Sipirok dihubungkan oleh jalur via lereng gunung Loeboek Raja (termasuk Batoea na doewa dan Pagaroetang.

28/11/14

Bag-5. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Perkembangan Sosial Ekonomi dan Kweekschool Padang Sidempoean Sekolah Guru Terbaik di Nederlansche Indie’



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada.Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri.Bagaimana Kota Padang Sidempuan tumbuh di masa doeloe? Mari kita lacak!

***
Setelah pengembangan pendidikan, prioritas pemerintah di Padang Sidempuan adalah peningkatan layanan kesehatan. Namun dalam hal layanan kesehatan ini harus dibedakan layanan kesehatan untuk orang-orang Eropa/Belanda dan untuk orang-orang pribumi. Untuk orang Eropa/Belanda sudah ada sejak awal ketika garnisun dibangun dan memiliki dokter militer. Dokter militer inilah yang melaksanakan klinik dan apotik di garnisun tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh pejabat-pejabat sipil Belanda.  Tentu saja penduduk pribumi tidak memiliki akses terhadap klinik dan apotik ini. Untuk orang-orang pribumi layanan kesehatan baru sekadar vaksinasi, sebab persoalan besar bagi pejabat Belanda adalah epidemiki kolera dan lainnya. Untuk melaksanakan tugas vaksinasi ini, dilatih dan diangkat pegawai yang berasal dari penduduk pribumi.

Sementara kondisi ekonomi di Afdeeling en Ankola lagi bagus-bagusnya. Produksi kopi makin meningkat karena harga kopi dunia khususnya kopi dari Mandheling en Ankola terus menjadi harga tertinggi di dunia. Infrastruktur yang makin membaik seharusnya ongkos evakuasi (kirim) kopi ke pelabuhan-pelabuhan seharusnya lebih murah tapi dalam kenyataannya harga pembelian kopi tetap tidak berubah. Pendapatan petani dan bagian dari penerimaan para koeria tidak berubah. Kolaborasi antara pegawai pemerintah (pakhuismeester) dengan pedagang (Tionghoa) tercium oleh para koeria bermain mata. Dewan koeria lantas mengambil sikap dan protes.

Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 24-10-1878: ‘Kongsie Koeria dalam perdagangan kopi. Kongsie ini merupakan bentuk perlawanan terhadap institusi yang sudah ada (pakhuismeeiters dan koffie mantries) yang sering main mata dengan pihak partikelir terdapat di Sipirok, Padang Sidempoean, Muara Sipmgie dan Natal’

Sikap para koeria ini mendapat respon dari pemerintah. Khawatir akan timbul antipati dan petani malas-malasan bertanam kopi, pemerintah mengizinkan para koeria berperan dalam perdagangan, khususnya kopi. Dampaknya langsung terasa, harga-harga yang diterima petani menjadi lebih besar, sementara inflasi tetap terjaga stabil. Akibatnya pundi-pundi para koeria makin tebal. Implikasinya, horja para koeria pun menjadi jorjoran. Produksi yang meningkat dan konsumsi yang meningkat akan memberi dampak berganda (multiplier effect). Ekonomi Ankola khususnya di Padang Sidempuan berada pada top performance.

27/11/14

Bag-4. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Pengembangan Pendidikan, Ankola en Sipirok Dimekarkan



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada.Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri.Bagaimana Kota Padang Sidempuan tumbuh di masa doeloe? Mari kita lacak!

***
Kota Padang Sidempuan pada awal tahun 1870-an perkembangannya sangat luar biasa. Kota ini  telah menjadi ibukota Afdeeling Mandheling en Ankola, jembatan besar menuju kota (jembatan Siborang, jembatan Sihitang dan jembatan Sigiring-giring) sudah selesai dan jalan-jalan di dalam kota sudah terhubung, jalan poros Padang, Bukit Tinggi, Panyabungan, Padang Sidempuan menuju Sibolga dan menuju Sipirok sudah dapat dilalui padati. Laju pertumbuhan penduduk (urbanisasi) juga makin kencang, pemukiman penduduk makin meluas, pasar-pasar semakin ramai (terutama Pasar Siteleng).Tata ruang wilayah kota kira-kira serupa ini:

  • Pusat pemerintahan antara jembatan Siborang dengan  Jalan Sitombol yang sekarang dan antara jalan Sudirman dan Jalan Thamrin yang sekarang.
  • Pusat perdagangan (bisnis) di sekitar jembatan Siborang (Pasar Siborang) dan di Pasar Siteleng dekat masjid raya lama yang sekarang dan kemudian berkembang ke arah utara  masjid  di pangkal jalan Merdeka sekarang  yang kala itu disebut Pasar Moedik.
  • Pusat postel dan keuangan ujung jalan Sitombol.
  • Pemukiman penduduk di sekitar Pasar Siborang dan sekitar Pasar Siteleng (Pasar Moedik dan Kampung Bukit).
  • Selebihnya adalah pedesaan yang masih hijau, jauh di sana di sebelah utara ada kampung-kampung terpencil, seperti Batang Ajoemi, Tanobato, Boeloe Gonting dan Sitataring; sebelah barat seperti Sigiring-giring, Sihadabuan dan Panyanggar; di sebelah timur; seperti Batoe nadoewa dan Oejoeng Goerap; sebelah selatan seperti Sidangkal dan Batang Toehoel

24/11/14

Bag-3. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Pembangunan Infrastruktur, Ibukota Afdeeling Mandheling en Ankola Pindah ke Padang Sidempuan’



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana Kota Padang Sidempuan tumbuh di masa doeloe? Mari kita lacak!

***
Komodi kopi dari gudang besar di Padang Sidempuan sudah menembus pasar Amerika Serikat dengan harga tertinggi pula. Akan tetapi bagaimana kopi-kopi terbaik dunia (Ankola dan Mandheling) itu sampai di manca Negara, sangatlah memilukan di tempat asalnya. Asisten residen Mandheling en Ankola, A.P. Godon ketika mulai bertugas di Mandheling 1848 harus memulai angkutan kopi ke pelabuhan Natal dengan cara dipikul, kemudian menggantikannya dengan cara gerobak yang ditarik kerbau setelah jalan Tanobato-Natal dibangun. Sepuluh  tahun kemudian Controleur Ankola, Hennij melakukan hal yang sama dengan memikul dari Padang Sidempuan ke Loemoet dan baru kemudian dengan gerobak setelah jalan setapak Padang Sidempuan Loemoet berhasil ditingkatkan.

23/11/14

Bag-2. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Dari Sebuah Kampong Kecil Menjadi Pusat Pemerintahan dan Pusat Perdagangan di Angkola-Sipirok’



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana Kota Padang Sidempuan tumbuh di masa doeloe? Mari kita lacak!

***
Afdeeling Mandheling en Ankola sudah sejak 1840 dibentuk sebagai suatu wilayah pemerintahan baru di Residentir Aijer Bangie, Sumatra;s Westkust yang berkedudukan di Panjaboengan. Pada tahun 1842 di Afdeeling Mandheling en Ankola dibentuk Controleur di Ankola dan Controleur di Oeloe en Pakanten. Controleur Ankola berkedudukan di Padang Sidempuan, sementara Asisten Residen berkedudukan di Panyabungan. Selanjutnya, pada tahun 1845, Afdeeling Mandheling en Ankola menjadi bagian dari Residentie Tapanoeli.

Pada bulan Juni 1946, Padang Sidempuan mendapat kehormatan dikunjungi oleh Jenderal von Gagern (utusan Ratu) dan Jenderal Michiels (Gubernur Sumatra’s Westkust). Situasi kota saat kunjungan ini, sudah ada beberapa orang Belanda yang tinggal di Padang Sidempuan plus sejumlah anggota militer berbangsa Belanda yang sudah ada lebih dulu. Di dalam komunitas Belanda ini sudah ada rumah sakit dan apotik (tentunya buat kebutuhan aparatur pemerintah dan militer). Jenderal von Gagern sempat berpidato di dalam suatu acara puncak yang juga dihadiri oleh para pemimpin-pemimpin lokal dengan pengikutnya yang datang dengan mengendarai kuda.

Kehadiran para pemimpin-pemimpin lokal ini adalah salah satu dari tugas pokok dan fungsi Controleur di wilayah Ankola dalam menjalankan misinya. Para pemimpin-pemimpin lokal ini di satu sisi menjadi partner pemerintah (dalam hal ini Controleur) untuk menfasilitasi dan memenuhi kebutuhan sehari-hari orang Belanda dan para tentara di garnisun. Di sisi lain Controleur, para komandan tentara dan para pemimpin lokal tentu saja mulai merancang pembangunan infrastruktur Ankola seperti jalan, jembatan dan irigasi.

21/11/14

Bag-1. Sejarah Padang Sidempuan: 'Kampong Baroe, Kampung Lama, Suatu Koeria di Tengah Kota dan Asal Usul Nama Padang Sidempuan'


*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis tidak mendalam) berdasarkan fakta-fakta sejarah. Mungkin tidak ada yang menyadari bahkan para keluarga mereka sekalipun, bahwa di tengah Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe terdapat satu koeria. Koeria apa itu? Mari kita lacak!


Misteri Koeria Kampong Baroe

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Staatsblad No. 141 tahun 1862) yang mana Residentie Tapanoeli (Kresidenan Tapanuli) terdiri dari enam afdeeling. Salah satu afdeelingnya disebut Afdeeling Mandheling en Ankola. Salah satu lanskap (kemudian disebut onderafdeeling) adalah Ankola en Sipirok. Di lanskap atau onder afdeeling Ankola en Sipirok ini terdapat sebanyak 14 koeria (yang dikepalai koeriahoofd), yakni:

1.      Kampong-baroe
2.      Si Mapil-Apil
3.      Saboengan Djai
4.      Batoe-nadoea
5.      Oeta Rimbaroe
6.      Si Pirok
7.      Bringin
8.      Praoe Sorat
9.      Soeroemantigi
10.  Pintoe Padang
11.  Si Galangan
12.  Moeara Thais
13.  Pitjar Koeleng
14.  Si Ondop

Pada tahun 1864 ada suatu kejadian pembunuhan sebagaimana dilaporkan di dalam Koran yang mana para kepala-kepala koeria tersebut menjadi anggota rapat (pengadilan lokal). Mereka telah menjadi bagian dari sistem pemerintahan sipil di Ankola en Sipirok. Berdasarkan staatsblads yang dikutip koran Bataviaasch handelsblad, 10-06-1871, semua koeria tersebut diberi tunjangan sebesar f 960 per koeria per tahun (f=GDN).

13/11/14

Bag-2. Sejarah Tapanuli: ‘Pembentukan Tata Kelola Pemerintahan dan Asisten Residen Dipindahkan dari Panyabungan ke Padang Sidempuan’

Sibogha, ibukota Residentie Tapanoeli, 1867 (KITLV)

Pada tahun 1845, status provinsi Sumatra’s Westkust masih civiel en militair dan karenanya Gubernur Michiels yang berpangkat Mayor Jenderal masih dipertahankan. Sementara itu, di Sumatra’s Westkust tiga kresidenan dirigkas hanya menjadi dua kresidenan saja, yakni: Kresidenan Padangsche Bovenlanden berkedudukan di Fort de Kock dan Kresidenan Tapanoeli berkedudukan di Sibolga. Ini terkait dengan peralihan asisten residen Mandheling en Ankola dimasukkan ke Residentie Tapanoeli.  Sementara status kresidenan Aijer Bangies diturunkan menjadi asisten residen. Sedangkan Residentie Tapanoeli sendiri ditingkatkan statusnya dari sebelumnya Asisten Residen menjadi Residen yang berkedudukan di Sibolga.

Yang menarik, ketika status asisten Residen Tapanoeli ditingkatkan menjadi pangkat Residen, justru yang menjadi residen adalah seorang militer (belum pernah sebelumnya). Residen pertama adalah Majoor A. van der Harr. Ini seakan berulang, ketika tahun 1931 Residen Sumatra’ Westkust yang sebelumnya dijabat sipil digantikan seorang militer yakni Luitenane Kolonel  C.P.J. Elout. Ketika terjadi peningkatan eskalasi perang di Bonjol, Elout yang berpangkat Letkol harus digantikan yang berpangkat Kolonel, yakni A.V. Michiels. Maka, pada tahun 1845 Michiels yang sudah pension dari militer justru pangkatnya dinaikkan menjadi Generaal Majoor Titulair. Sementara di Tapanoeli, pada tahun 1846 pangkat A. van der Harr dinaikkan dari major menjadi  Luitenane Kolonel. Ada apa?

11/11/14

Bag-1. Sejarah Tapanuli: ‘Prakondisi Berawal di Natal dan Menjadi Kresidenan yang Berkedudukan di Sibolga’

Peta Tapanoeli, 1830 (KITLV)

Setelah Jawa, wilayah ekspansi berikutnya pemerintahan kolonial Belanda adalah Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan. Pada tahun 1815, pemerintah kolonial Belanda menempatkan seorang Residen di Palembang en Banca. Sedangkan dua pulau yang lainnya baru setingkat asisten residen. Dalam perkembangannya di Sumatra, daerah koloni Belanda merangsek ke wilayah barat yang disebut Sumatra’s Westkus. Singkat cerita, pada tahun 1829 pejabat tertinggi di Sumatra’s Westkus adalah seorang Residen berkedudukan di Padang. Dengan kata lain struktur pemerintahan  di Sumatra’s Westkust baru berpangkat Resident dengan dibantu tiga asisten residen masing-masing di Padang, Zuidelijke afdeeling dan Benkoelen yang berkedudukan di Padang. Ini berarti wilayah Benkoelen masuk Sumatra’s Westkust dan wilayah Tapanuli yang sekarang, belum disebut sebagai bagian dalam sistem pemerintahan Belanda di Sumatra’s Weskust sejauh ini..

Namun tahun berikutnya, pada tahun 1830, di satu sisi wilayah Benkoelen dipisahkan dari Sumatra’s Westkust, tetapi di sisi lain administrasi Sumatra’s Westkust diperluas ke utara. Struktur pemerintahan tetap menjadi Residen dengan dibantu satu asisten residen di lanskap Padang dan satu lagi asisten residen di lanskap Padangsche Bovenlanden. Nama asisten residen anonym sebelumnya Zuidelijke afdeeling menjadi midelijke afdeeling.  Dalam wilayah kerja Residen Sumatra’s Westkust ini ada empat lanskap baru, yakni: Nattal dan Tappanoeli masing-masing dengan menempatkan seorang posthouder en ontvanger der regten; Aijer Bangies dengan menempatkan seorang civiel kommandant; dan Poelo Batoe dengan menempatkan seorang posthouder. Diantara empat lanskap baru ini baru Aijer Bangies yang sudah melakukan sivilisasi.

09/11/14

Abdul Hakim (Harahap), Gubernur Sumatra Utara dan Menteri Pertahanan: Anak Kedua Mangaradja Gading di Padang Sidempuan

Baca juga:


Sejarah Kota Medan (1): Pada Saat Medan Masih Sebuah Kampung, Padang Sidempuan Sudah Menjadi Kota

Gelar Doktor Pertama di Indonesia: Dr. Ida Loemongga, PhD, Doktor Perempuan Pertama di Indonesia

Bapak Pers Indonesia: Dja Endar Moeda, Kakek Pers Nasional dan Parada Harahap, Cucu Pers Nasional

Medan Perdamaian: Organisasi Sosial Pertama di Indonesia (bukan Boedi Oetomo)

Karim gelar Mangaradja Gading adalah seorang pemuda belia, anak Padang Sidempuan yang baru saja lulus Kweekschool Padang Sidempuan masih berpikir apakah di masa depan akan menjadi guru. Sebagaimana umumnya, lulusan Kweekschool Padang Sidempuan, ada yang menjadi guru dan ada yang menjadi pegawai pemerintah. Mangaradja Gading melakukan ‘kebulatan tekad’ untuk melamar sebagai pegawai pemerintah. Setelah diterima, Mangaradja Gading ditempatkan di kantor residen Tapanoeli di Sibolga.

Setelah beberapa tahun Mangaradja Gading ditunjuk untuk menjadi pengawas di Jambi. Dari Sibolga, Mangaradja Gading, istri dan seorang anak berangkat ke wilayah baru yang belum mereka kenal, melalui Padang lalu menuju Sarolangun, Jambi. Setelah setahun bertugas di Sarolangun, istri Mangaradja Gading melahirkan anak kedua tanggal 15 Juli 1905 yang diberi nama Abdul Hakim.

Dari Sarolangun selanjutnya, Mangaradja Gading dipindahkan ke Kota Jambi. Di kota ini, Mangaradja Gading memasukkan Abdul Hakim di sekolah ELS untuk mengikuti abangnya yang sudah lebih dahulu bersekolah. Namun karena sudah cukup lama bertugas di Jambi, Mangaradja Gading minta dipindahkan ke Sibolga. Abdul Hakim tidak selesai mengikuti sekolah ELS.

02/11/14

Mangaradja Onggang Parlindoengan: Anak Soetan Martoea Radja dan Cucu Mangaradja Naposo dari Sipirok



Soetan Naposo di Mandailing dan Mangaradja Naposo di Sipirok. Yang dibicarakan sekarang adalah Mangaradja Naposo dari Sipirok. Siapa itu Mangaradja Naposo? Dia adalah kepala kampong dari Sipirok yang memiliki nama lain: Thomas Siregar atau Muhammad Junus Siregar. Thomas Siregar dulunya adalah salah satu dari tiga murid pertama dari sekolah dasar yang didirikan van Asselt (1861) dengan gurunya Nommensen (1862) di Prau Sorat. Dua murid yang lain adalah Petrus dan Markus. Kedua anak muda ini aktif di dalam kegiatan zending di Sipirok dan juga mereka termasuk asisten Nommensen dalam kegiatan misi di Bataklanden.

Ketika, kebutuhan guru semakin meningkat dengan bertambahnya jumlah usia sekolah yang memerlukan pendidikan di Sipirok, sekolah-sekolah rakyat (yang yang dulunya inisiatif para guru lulusan Kweekschool Tanobato kemudian diakuisisi pemerintah dan ditambah sekolah baru) ternyata tidak mencukupi. Lantas, tiga orang terpelajar (murid Nommensen dulu) ini diangkat menjadi guru yang dibayar pemerintah untuk menambah kekurangan guru yang diperlukan. Thomas ke Sipirok, Petrus ke Prau Sorat dan Markus ke Arse. Selanjutnya ketika pemerintahan di Sipirok dibentuk, diperlukan sejumlah pegawai untuk membantu Controleur dalam menjalankan pemerintahan. Salah satu calon pegawai tersebut adalah Thomas Siregar, yang sebelumnya adalah guru yang diangkat pemerintah. Dengan kata lain, ketika Thomas Siregar diangkat sebagai mantri-politie di Sipirok, sebenarnya Thomas hanya berpindah posisi: dari guru menjadi pegawai. Di dalam sisa hidupnya, Thomas Siregar hanya berkarir sebagai pegawai pemerintah.

Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 17-06-1890 memberitakan pengumuman pemerintah sebagai berikut: ‘diangkat dari mantri kelas-1 menjadi mantri kelas-2 (salah satu): Thomas gelar Mangaradja Naposo di standplaats Tapanoeli’.

01/11/14

Maharadja Salamboewe from Mandailing: Anak 'Dokter Djawa' Pertama Luar Djawa, Djaksa yang Menjadi Wartawan Pemberani

Maharadja Salamboewe: 'Pena yang tajam'


Mahasiswa pertama dari Tapanuli Selatan adalah Si Asta dan Si Angan. Akan tetapi mahasiswa pertama dari Indonesia studi ke luar negeri adalah Si Sati. Ketiga anak remaja ini adalah sama-sama murid dari sekolah ala homeschooling yang diprakarsai istri A.P. Godon (Asisten Residen Mandheling en Ankola). Setelah Si Asta dan Si Angan sama-sama dinyatakan menyelesaikan pendidikannya (lulus) 1854, kedua anak pemimpin Mandailing ini melanjutkan studi ke Jawa pada akhir Novemper 1854. Di Batavia mereka mengikuti yang disebut Sekolah Dokter Jawa (cikal bakal STOVIA) dan berhasil mendapat gelar yang disebut Dokter Jawa dan langsung mengabdi di kampong halaman.

Sedangkan Si Sati yang merupakan adik kelas Si Asta dan Si Angan, setelah lulus, ia menjadi guru untuk menggantikan istri A.P. Godon. Karena minat yang besar terhadap pendidikan dan karena pendidikan tinggi di Batavia hanya satu-satunya Sekolah Dokter Jawa, Si Sati melanjutkan pendidikannya ke Negeri Belanda pada tahun 1857. Setelah mendapat akte diploma guru, Si Sati yang berganti nama menjadi Willem Iskander pulang kampong dan mendirikan sekolah guru (kweekschhol) di Tanobato.

Si Asta dan Si Angan adalah dua dokter djawa dari Sekolah Dokter Djawa pertama yang berasal dari luar Jawa. Sedangkan Si Sati alias Willem Iskanderr adalah mahasiswa pertama Indonesia yang studi ke luar negeri. Sekadar catatan: baru tahun 1897 orang kedua Indonesia yang datang studi ke (negeri Belanda). Ini berarti Willem Iskander mendahului yang lain selama 40 tahun.