30/12/14

Asal Usul Sejarah Lemang: Apakah Bermula di Tanah Batak?



Baca juga:


Lomang (Batak), lemang (Melayu) dan lamang (Minangkabau) adalah tiga nama yang diucapkan dan ditulis mirip untuk menunjukkan nama satu hal. Lemang (selanjutnya, baca: Indonesia) adalah suatu metode memasak beras menjadi nasi dengan menggunakan wadah bamboo. Setelah beras dimasukkan ke dalam rongga bamboo yang di dalamnya dilapisi daun pisang kemudian dibakar/dipanggang di atas api menyala. Beras yang sudah menjadi nasi ini dengan metode bamboo disebut lemang.

Lemang pada masa kini ditemukan di beberapa Negara dan sejumlah daerah di Indonesia. Dalam perkembangannya, jenis beras yang digunakan bermacam-macam, utamanya beras local seperti beras putih, beras merah, beras hitam atau beras pulut. Di daerah Angkola dan Mandailing beras disebut dahanon dan jenisnya bermacam-macam, seperti dahanon Sipulo, dahanon Silanting, dahanon Sipahatta nabara, dan dahanon Sipulut (beras ketan). Diantara jenis-jenis beras yang ada, beras pulut yang paling popular yang kerap dihidangkan untuk lomang di saat-saat tertentu terutama ketika hari raya.

***
'Mangalomang'
Untuk membuat nasi lemang bukanlah hal yang simpel, karena perlu persiapan dan penanganan selama proses pembakaran. Waktu yang dibutuhkan saat mulai dibakar di atas kayu bakar yang menyala (fase pertama) hingga masa pemanggangan di atas bara (fase kedua) cukup lama--tiga sampai empat jam. Karena itu, metode ini tidak setiap hari digunakan untuk memasak beras. Dengan kata lain, metode memasak beras menjadi nasi serupa ini tidak praktis. Waktu dan daya upayanya tidak sebanding jika dilakukan dengan metode lain.

Metode memasak nasi menggunakan bamboo yang dikenal sekarang sebagai lemang hanya digunakan jika metode lain tidak bisa digunakan atau jika dimaksudkan untuk meninggikan nilainya. Metode ini di masa lalu dapat digunakan di dalam perjalanan jauh jika tidak tersedia peralatan memasak nasi tetapi tersedia jenis bamboo yang sesuai dengan metode memasak beras serupa ini. Dengan demikian, metode memasak ala bamboo ini menjadi sangat taktis di medan perjalanan jarak jauh (long distance).

***
Produk beras dengan menggunakan metode memasak ala bamboo ini terbukti memang nasi menjadi lebih uenak. Hal ini tidak hanya karena bahan dasarnya beras lokal, juga karena dibakar dengan kayu bakar. Jangan lupa efek dari wadah bamboo dan daun pisang juga turut meningkatkan aroma rasanya menjadi khas. Value inilah yang dicapture untuk dilestarikan sebagai makanan yang khas pada hari tertentu, seperti hajatan atau hari raya. Sedangkan di masa kini value yang dimaksud adalah nilai komersil yang dapat diperdagangkan setiap hari, seperti di Tebing Tinggi, Sumatra Utara. Dengan demikian, penganan pada hari raya dan produk bisnis di pasar menjadi sebanding jika metode bamboo ini diterapkan. 

Namun perlu diingatkan, dalam industri lemang yang sekarang, seperti dituturkan Baharuddin Aritonang dalam bukunya Orang Batak Berpuasa, chapter 26 'Mangalomang', banyak lemang komersil yang palsu di pasaran. Dalam dunia tradisi, lomang asli haruslah taat menggunakan jenis bambu yang sesuai--agar hasilnya maksimal. Lomang asli ciri-cirinya lembek di bagian bawah dan bagian atas. Bagian terbaik dari lomang asli (pulen) ada di bagian tengah ruas bambu. Lemang palsu mudah dikenali jika semua bagian ruas bambu (bawah, tengah dan atas) tampak seragam dan tingkat kematangannya rata, Teknik lemang palsu ini dilakukan dengan cara beras pulut dimasak dulu dalam dandang baru kemudian dibungkus dan digulung dengan daun pisang yang sudah diasapi lalu dimasukkan ke dalam rongga bambu dan kemudian dipanggang seadanya. Dalam perdagangan lemang palsu maccam ini, kerap kali bambunya disembunyikan, isinya dijajakan. Tidak demikian dengan lomang tradisi nan asli.     

28/12/14

Bag-13. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Djamin gelar Baginda Soripada: Anak dari Ephraim gelar Soetan Goenoeng Toea dan Ayah dari Amir Sjarifoeddin Harahap gelar Soetan Goenoeng Soaloon’



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana anak-anak Padang Sidempuan berkembang dan menyebar ke semua penjuru angin di masa doeloe? Mari kita lacak! [Sebagai info awal: Amir Sjarifoeddin adalah salah satu tiga founding father Republik Indonesia (Soekarno, Hatta dan Amir)].

***
Pada tahun 1842 Afdeeling Mandheling en Ankola dibentuk. Asisten Residen berkedudukan di Panjaboengan. Asisten Residen dibantu dua controleur di Ankola dan Oeloe Pakanten. Pada tahun 1871, ibukota afdeeling dipindahkan dari Panyabuangan (onderafdeeling Mandheling en Batang Natal) ke Padang Sidempoean (onderafdeeling Ankola en Sipirok). Kemudian pada tahun 1875, tiga koeria (Sipirok, Goenoeng Bringin dan Praoe Sorat) dipisahkan dari Onderafdeeling Ankola en Sipirok dan menyatukannya dengan membentuk Onderafdeeling Sipirok.

Dalam proses pembentukannya, Onderfadeeling Sipirok akan dikepalai seorang controleur berkedudukan di Sipirok sebagai lokasi yang ditunjuk dengan dibantu satu orang pribumi sebagai juru tulis dengan gaji  f 20 per bulan dan dua orang sebagai pengawal yang masing-masing mendapat gaji f 10 per bulan (Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 24-02-1875). Tidak lama kemudian, sebanyak dua puluh adjunkt Djaksa (pihak pribumi) diangkat di Governement Sumatra’s Westkust (termasuk) di Sipirok dengan gaji f 30 per bulan (Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 07-07-1875).

26/12/14

Bag-12. Sejarah Padang Sidempuan: 'Kota Padang Sidempuan Tempo Doeloe Dalam Gambar'



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan (klik foto jika ingin memperbesar gambar)

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana kronologi Padang Sidempuan ditemukan lalu dibangun Belanda dan berkembang sejak Indonesia merdeka? Mari kita lacak!

Peta tertua sekitar Kota Padang Sidempuan masa kini adalah peta militer Belanda pada masa awal pendudukan Ankola. Peta ini berupa sketsa,yang mengindikasikan rute (tahapan) menuju Pertibie dalam rangka melumpuhkan kekuatan pengikut Tuanku Tambusai di sekitar Sosa dan Dalu-Dalu. Untuk mencapai target tersebut, pasukan Belanda disiapkan dari tiga pos militer yakni Siboga, Panjaboengan dan Rao yang masing-masing pasukan menuju Pertibie. Pasukan gabungan yang terbentuk di Pertibie menjadi kekuatan utama untuk mengepung pengikut Tuanku Tambusai.
                              
Peta tertua, Peta militer, 1837
Dalam peta ini terdapat tiga benteng (Siboga, Panjaboengan dan Rao). Asal-usul dibangun benteng ini bermula ketika militer Belanda masuk pertama kali ke Tanah Batak tahun 1833 untuk memberi perlindungan terhadap gangguan keamanan penduduk di Mandailing. Militer Belanda lalu membangun Benteng Elout di Panjaboengan tahun 1834. Benteng ini kemudian digunakan sebagai salah satu basis militer dalam rangka melumpuhkan pengikut Tuanku Imam Bonjol khususnya di Benteng Bonjol. Benteng Elout dirancang dalam satu garis pertahanan Panjaboengan, Kotanopan dan Rao ke arah selatan. Sementara ke arah utara dibangun pos militer di Siaboe dan Soeroematinggi (1835). Setelah Benteng Bonjol ditaklukkan tahun 1837, pada tahun itu juga militer Belanda merangksek menuju Ankola dan Sipirok. Tujuan ekspedisi ini adalah untuk membebaskan gangguan keamanan di Ankola dan Sipirok dari keonaran oleh pengikut Tuanku Tambusai. Untuk mengusir pengikut Tambusai di Ankola dan Sipirok, lalu militer Belanda membangun dua benteng sekaligus yakni di Pijor Koling (Ankola Djoe) dan Tobing (Ankola Djoeloe). Pasukan militer menuju Tobing berasal dari Siboga, sedangkan pasukan militer menuju Pijor Koling berasal dari Panjaboengan.

Pasukan Belanda yang dibantu para ‘hulubalang’ dari Mandailing dan Ankola dan didukung penduduk Padang Lawas sebelum memulai serangan terlebih dahulu membangun di Benteng Pertibie. Pasukan gabungan ini akhirnya berhasil melumpuhkan perlawanan pengikut Tuanku Tambusai di Sosa dan Dalu-Dalu (1838). Peta rute inilah yang menjadi sebuah peta militer yang didokumentasikan yang dianggap sebagai peta tertua tentang lanskap Madheling, Ankola dan Pertibie. Di dalam ‘peta kuno’ ini belum mengindikasikan keberadaan Padang Sidempuan. Sebab rute dari Siboga menuju Pijor Koling masih melalui Sigumuru, Sisundung, Sidangkal, lalu Pijor Koling.

Bag-11. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Marah Halim, Anak Petani yang Meniti Karir Militer Mulai dari Bawah hingga Menjadi Gubernur Sumatera Utara’



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana anak-anak Padang Sidempuan berkembang dan menyebar ke semua penjuru angin di masa doeloe? Mari kita lacak!
***
Foto Brigjen Marah Halim, 1-9-1971
Marah Halim Harahap adalah mantan Gubernur Sumatra Utara yang paling popular diantara para gubernur Sumatra Utara. Popularitasnya semakin meroket jika dihubungkan dengan sebuah event olahraga sepakbola yang dikenal sebagai Marah Halim Cup. Namun tidak banyak informasi sejarah perjalanan hidupnya sebelum menjadi gubernur. Masyarakat Sumatra Utara khususnya hanya mengenal riwayat rinci mengenai Marah Halim setelah menjadi gubernur. Ini wajar, karena Marah Halim adalah tokoh nasional. Untuk kebutuhan muatan lokal dalam pendidikan nasional, kiranya perlu ditelusuri siapa Marah Halim dan bagaimana Marah Halim menuju pentas tokoh nasional yang dikenal di ASEAN. Mari kita lacak!


***
Tabusira, suatu kampong kecil di Afdeeling Padang Sidempuan yang letaknya dekat dengan perbatasan Sipirok. Kampong Tabusira ini posisi gps-nya kira-kira begini: setelah Palsabolas, Pargarutan menuju Sipirok, terdapat simpang di sebelah kanan jalan raya yang disebut simpang Mara(h) Gordong, lalu menuju arah timur melalui kampong Silinggom-linggom. Dari kampong ini terpapar dibawah sebuah lembah yang indah yang ditengahnya mengalir sungai Aek Batang Tura yang menjadi hulu terjauh dari sungai Barumun. Lembah ini sungguh sangat subur, karena iklim campuran antara berhawa panas (dari Padang Lawas) dan berhawa dingin (dari Sipirok).

16/12/14

Bag-4. Sejarah Tapanuli: ‘Ida Pfeiffer, Gadis Pelancong Pemberani, Perempuan ‘Bule’ Pertama Memasuki Bataklanden’



Pada masa itu, 1852, Residentie Tapanoeli baru terdiri dari Afdeeling Natal, Afdeeling Mandheling, Afdeeling Ankola, Afdeeling Baros, Afdeeling Singkel dan Poeloe Nias en Onderhoorige Eilanden. Residen Tapanoeli berkedudukan di Siboga dan satu asisten residen di Panjaboengan. Dua controleur ditempatkan di Padang Sidempoean dan Baros. Sementara itu, dua lanskap belum dikenal secara baik yakni Pertibie dan Bataklanden (Silindoeng en Toba). Dengan kata lain, dua lanskap ini belum termasuk wilayah administratif (militaire en civiel) .Residentie Tapanoeli

***
Ida Pfeiffer
Namun demikian, konon sudah ada dua orang asing yang dianggap telah memasuki lanskap Bataklanden, yakni Franz Wilhelm Junghuhn dan Herman Neubronner van der Tuuk. Sedangkan orang ketiga adalah Ida Pfeiffer, seorang gadis yang tidak ada takutnya. Wanita pelancong ini awalnya tidak punya rencana ke Sumatra, akan tetapi karena dia menemukan peta Tapanoeli di Batavia, Ida Pfeiffer lalu memutuskan untuk menantang belantara Tanah Batak. Ida Pfeiffer memulai perjalanan dari Batavia dengan kapal uap ke Padang. Lalu dari Padang dengan seorang diri (bagaikan lone ranger), Ida Pfeiffer mengendarai kuda setahap demi setahap menuju Fort de Kock dan Kotanopan lalu ke Saroematinggi ('pintu gerbang' Ankola). .

Di kampong kecil Saroematinggi, Ida Pfeiffer mulai ciut. Dan oleh karena Ida Pfeiffer sudah memiliki rencana baru lagi ingin meneruskan perjalanan ke Toba, maka Ida Pfeiffer memerlukan seorang pemandu (kata lain pengawal). Seorang Belanda bernama Hamehs yang dengan istrinya yang sudah bermukin di kampong itu, coba mencari dan menemukan seorang pemandu ulung yang bernama Dja Pangkat. Konon, Dja Pangkat adalah mantan pemandu Franz Wilhelm Junghuhn. Dja Pangkat dipilih karena sudah mengenal baik sejumlah wilayah dan juga memiliki beberapa teman kepala kampong di Silindoeng. Ida Pfeiffer merasa lebih aman dan semakin ber semangat.

14/12/14

Bag-10. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Dari Kota Kecil, Anak-Anak Padang Sidempoean Menuju Batavia untuk Kuliah di Dokter Djawa School dan STOVIA’



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana anak-anak Padang Sidempuan berkembang dan menyebar ke semua penjuru angin di masa doeloe? Mari kita lacak!

***
Satu-satunya perguruan tinggi di masa doeloe di Nederlandsche Indie adalah Dokter Djawa School. Sekolah kedokteran yang dibuka pada tahun 1851 ini kemudian di tahun 1905 menjadi STOVIA (cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Untuk menjadi mahasiswa sekolah kedokteran itu bukanlah hal yang mudah: selain sangat jauh dari kota kecil Padang Sidempoean, juga seleksi masuk sangat ketat dan memiliki kualifikasi yang tinggi. Namun begitu, ternyata cukup banyak anak-anak Padang Sidempoean yang berhasil menjadi dokter di sekolah kedokteran tersebut.

13/12/14

Bag-3. Sejarah Tapanuli: Kolonel Alexander van der Hart, Pahlawan Belanda yang Menjadi Residen Tapanoeli Mati Konyol Dibunuh Seorang Pribumi Biasa



Ibukota Kresidenan Tapanoeli adalah Siboga. Sejak Tapanoeli menjadi sebuah kresidenan 1843 hingga Residentie Tapanoeli dipisahkan dari Province Sumatra’s Westkust pada tahun 1905, sudah ada 22 orang bangsa Belanda yang menjadi Residen Tapanoeli. Diantara mereka ini terdapat dua residen yang terkenal di kalangan Belanda yakni Mayor (Luit.-Kol.) Alexander van der Hart (1844-1847) dan L.C. Welsink (1898-1908). Artikel ini hanya fokus pada Alexander van der Hart, residen kedua Tapanoeli. Siapakah dia?

Prajurit pemberani asal Rotterdam masuk Akademi Militer di Semarang

Alexander van der Hart adalah seorang yang bagaikan ‘red devil’ bagi penduduk pribumi di Sumatra. Ini manusia tidak ada takutnya. Lahir di Rotterdam 19 Agustus 1808. Pada usia remaja van der Hart sangat bernafsu untuk menjadi prajurit. Baru menginjak usia 13 tahun, van der Hart sudah meninggalkan rumah orangtuanya dan ikut berlayar ke Hindia Belanda (Nederlansche Indie). Pada tahun 1821 van der Hart sudah berada dalam suatu ekspedisi (baca: penjajakan pendudukan) di Palembang. Diantara para prajurit yang ikut ekspedisi, van der Hart paling menonjol, karenanya sang komandan merekomendasikan anak pmberani ini mengikuti pendidikan militer di Semarang. Masuk akademi 1822 dan keluar pada tahun 1826 dengan pangkat letnan dua artileri senjata.

Setelah lulus akademi militer, van der Hart langsung menjadi bagian dalam perang Jawa, yang pada saat itu lagi gencar-gencarnya melumpuhkan perlawanan pemberontak Deipo Negoro. Meski belum ditempatkan di garis depan, van der Hart pada Desember 1827 diberi tanggung jawab untuk pembangunan sebuah benteng beton yang lokasinya antara Temple dan Kalidjinking, di jalan poros Djocjocarta-Magclang. Benteng berhasil dibangun dan hanya diselesaikan dalam beberapa hari saja. Dan baru melayani lebih dari satu tahun, luitenant dua artileri van der Hart sudah ditransfer ke Departemen Infantri Nasional (pasukan elit) di bawah Jenderal van Geen. Dia terus menerus diandalkan untuk berperang dan pada tahun 1830 van der Hart dianugerahi medali perunggu segi delapan.

08/12/14

Bag-9. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Kolonel. Ing. Mangaradja Onggang Parlindungan dan Letkol Mr. Gele Harun, Dinasti Guru dan Dokter: Like Son, Like Father; Like Girl, Like Mother’


Baca juga:
Dr. Radjamin Nasution: Walikota Pertama Surabaya, Pemain Sepakbola Top
Gelar Doktor Pertama di Indonesia: Dr. Ida Loemongga, PhD, Doktor Perempuan Pertama di Indonesia
Bapak Pers Indonesia: Dja Endar Moeda, Kakek Pers Nasional dan Parada Harahap, Cucu Pers Nasiona
Hariman Siregar, Ida Nasution, Lafran Pane, Parlindungan Lubis, Sutan Casajangan: Anak-Anak Padang Sidempuan yang Menjadi Pemimpin Mahasiswa
Medan Perdamaian: Organisasi Sosial Pertama di Indonesia (bukan Boedi Oetomo)


*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana anak-anak Padang Sidempuan berkembang dan menyebar ke semua penjuru angin di masa doeloe? Mari kita lacak!

Kol. Ir. Mangaradja Onggang Parlindoengan

Kampung Sipirok, 1905 (dbnl)
Kolonel. Ir. Mangaradja Onggang Parlindoengan adalah mahasiswa pertama pribumi yang studi di Jerman. Mangaradja Onggang Parlindoengan mengambil bidang teknik, agak berbeda dibanding dengan mahasiswa-mahasiswa pribumi yang preferensinya ke bidang pendidikan, kedokteran, hokum dan ekonomi. Jika yang lain, memilih ke Belanda, Mangaradja Onggang Parlindoengan justru ke Jerman, negara yang menjdi musuh abadi Nederland. Bidang keahlian yang dipilih pun terbilang ganjil waktu itu yakni teknik kimia. Mengapa demikian? Perlu kita lacak!

Mangaradja Onggang Parlindoengan adalah anak Soetan Martoewa Radja--anak Sipirok lulusan Kweekschool Padang Sidempoean yang terakhir 1893. Kemudian menjadi guru di Pargaroetan lalu diangkat menjadi kepala sekolah di Sipirok. Selanjutnya dipindahkan Ke Taroetoeng dan kemudian diangkat menjadi kepala sekolah Normaal School di Pematang Siantar. Di kota ini, Soetan Martoewa Radja menghabiskan sisa hidupnya. Setelah pension menjadi guru, Soetan Martoewa Radja pernah tiga periode sebagai anggota Dewan Kota (Gementeeraads) Pematang Siantar.

04/12/14

Bag-8. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Dr. Ida Loemongga, PhD, Dinasti Guru dan Dokter: Like Son, Like Father; Like Girl, Like Mother’


Baca juga:
Bag-8. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Dr. Ida Loemongga, PhD, Dinasti Guru dan Dokter: Like Son, Like Father; Like Girl, Like Mother’

Bag-11. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Marah Halim, Anak Petani yang Meniti Karir Militer Mulai dari Bawah hingga Menjadi Gubernur Sumatera Utara’


Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana anak-anak Padang Sidempuan berkembang dan menyebar ke semua penjuru angin di masa doeloe? Mari kita lacak!

***
Dr. Ida Loemongga, PhD adalah dokter bergelar Doktor pertama di negeri ini. Ida Loemongga Haroen Al Rasjid meraih PhD ini di Universiteit  Amsterdam, 1932. Ida Loemongga Haroen Al Rasjid br Nasoetion dalam mempertahankan disertasinya di hadapan guru besar dengan judul ‘Diangnose en Prognose van aangeboren Hartgebreken’ (Diangosa dan Prognosa Cacat Jantung Bawaan) mendapat sambutan yang luar biasa baik di Negeri Belanda maupun di Nederlandsche Indie (Hindia Belanda). Namun sebelumnya, direcall kembali dua diantara anak-anak Padang Sidempoean yang meraih PhD di Negeri Belanda.

Alinoedin gelar Radja Enda Boemi, anak Batang Toroe, Padang Sidempoean memperoleh gelar doctor (PhD) di bidang hokum di Leiden 1925 dengan desertasi berjudul: ‘Het grondenrecht in de Bataklanden: Tapanoeli, Simeloengoen en het Karoland’.  Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi adalah ahli hukum pertama dari Tanah Batak dan kedua dari Sumatra dan salah satu dari delapan ahli hukum pribumi yang ada di Nederlancsh-Indie. Radja Enda Boemi sebelum ke Negeri Belanda menyelesaikan tingkat sarjana hokum (Mr) di Rechts School, Batavia. Sepulang dari Belanda, Radja Enda Boemi ditunjuk sebagai Kepala Pengadilan di Semarang.

Todoeng gelar Soetan Goenoeng Moelia setelah lulus sarjana di Negeri Belanda 1915 kembali ke tanah air. Todoeng Harahap memulai karir sebagai guru Eropa. Setelah beberapa tahun Todoeng Harahap kelahiran Padang Sidempuan ini kembali ke Negeri Belanda untuk melanjutkan pendidikan. Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia meraih  gelar PhD di Rijks Universiteit pada tahun 1933 dalam bidang bahasa dan sastra dengan desertsi berjudul: ‘Het primitive denken in de modern wetenschap’. Todoeng Harahap pernah menjadi anggota Volksraad di Batavia (bahu membahu dengan Husni Tamrin, pahlawan Betawi)..

Dr. Ida Loemongga Nasoetion, PhD, 1932 (De Tijd)
Di jaman itu, hanya segelintir orang pribumi yang mampu meraih gelar doktor (pendidikan tertinggi). Namun, secara khusus dalam artikel ini, IDA LOEMONGGA Nasoetion adalah seorang yang sangat fantastis. Gadis boru Suti ini yang lahir pada tanggal 22 Maret 1905 muncul ke permukaan, ketika ia diterima di Prins Hendrik School, afdeeling HBS (pendidikan menengah) di Batavia tahun 1918. Setelah lulus, Ida Loemongga pada tahun 1923 langsung melanjutkan pendidikan ke Negeri Belanda. Ida Loemongga Nasoetion adalah seorang brilian dan pemberani. Ketika baru berusia 18 tahun, gadis yang cantik ini berangkat sendiri dan mendaftar di Universiteit Leiden. Setelah lulus sarjana, anak seorang dokter ini, lalu mengambil dokter spesialis di Universiteit Utrecht. Di Negeri Belanda, ahli jantung ini diminati oleh banyak institute. Setelah beberapa tahun menjadi asisten Dr. Caroline de Lange, Ida Loemongga memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Setelah meraih gelar PhD tahun 1932 gadis yang sudah matang ini baru berkesempatan pulang kampong ke tanah air untuk mengunjungi keluarganya. Siapakah dia? Mari kita lacak!

01/12/14

Bag-7. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Kweekschool Padang Sidempoean, Sekolah Guru di Pedalaman dan Terpencil yang Melahirkan Orang-Orang Hebat di Nederlansche Indie’



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana Kota Padang Sidempuan tumbuh di masa doeloe? Mari kita lacak!

***
Kweekschool (Sekolah Guru) Padang Sidempoean dibuka pada 30 April 1879. Sekolah guru berkapasitas 25 murid pada tahun pertama dibuka sekolah ini hanya terdaftar 18 murid. Mengapa demikian? Karena seleksi masuk sangatlah ketat. Kemampuan orangtua dalam pembiayaan dan kemampuan siswa dalam memenuhi syarat akademik menjadi dua faktor berhasil tidaknya calon siswa dalam ujian saringan masuk.

***
Kepala sekolah, L.K. Harmsen, guru pangkat kelas-3 (asisten guru) sebelumnya adalah kepala sekolah di Kweekschool Fort de Kock. Harmsen tampaknya kurang sukses di Fort de Kock karena nyaris semua murid yang mengikuti ujian akhir gagal. Karenanya, Harmsen dipindahkan ke sekolah guru yang baru dibuka di daerah pedalaman yang lebih jauh dan terpencil di Sumatra’s Westkust di Padang Sidempoean. Belum genap dua tahun Harmsen menjabat, dia sudah sakit-sakitan. Lantas di akhir 1881 diangkat seorang guru bernama J.W. van Haastert untuk menggantikan posisi Harmsen sebagai kepala sekolah  (pejabat sementara). Saat yang bersamaan, C.A. van Ophuijzen (dari Probolinggo) ditugaskan untuk mendukung guru di Kweekshool Padang Sidempoean, lalu disusul pada pertengahan 1882 pengangkatan J. Postma sebagai guru di Kweekschool Padang Sidempoean.

Proses belajar mengajar di Kweekschool Padang Sidempoean tidaklah mudah di awal masa penyelenggaraannya. Selain guru-gurunya belum komplit (bertambah secara bertahap), juga adaptasi para muridnya juga tidak langsung tune in yang boleh jadi karena standar pengajaran di Kweekschool Padang Sidempuan yang tinggi. Dalam masa belajar banyak murid yang jatuh sakit dan bahkan mengidap beri-beri. Sebagaimana dikabarkan seorang pembaca di Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 06-05-1882 menyebutkan lebih dari separuh murid kelas tertinggi harus dirawat di rumah sakit.

Para orangtua murid sudah mulai was-was apakah anak-anak mereka akan bisa melanjutkan sekolah dan bagaimana nasibnya kemudian. Rasa kekhawatiran semakin memuncak ketika diberitakan oleh Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 12-10-1882 bahwa para calon guru di Kweekshool Ford de Kock yang mengikuti ujian akhir semuanya gagal. Apalagi dilaporkan De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 31-01-1884 terhitung 1 Februari bahwa  D. Grivel seorang guru di Kweekschhol Fort de Kock akan menjadi kepala sekolah yang baru Kweekschool Padang Sidempoean. 

Namun kekhawatiran para orangtua tidak berlarut larut karena lulusan pertama Kweekschool Padang Sidempoean tercapai juga. Bataviaasch handelsblad (10-07-1884) memberitakan bahwa pada bulan April telah dilangsungkan wisuda dimana dari semua murid kelas tertinggi terdapat lima murid yang gagal. Ini berarti dari 18 murid yang terdaftar ketika sekolah dibuka 1879 hanya lima yang gagal ujian akhir. Meski tidak seluruhnya dari angkatan pertama lulus, namun hal ini tetap dianggap sebagai suatu sukses. Sebab hal ini tidak pernah dialami Kweekschool Fort de Kock. Dalam perkembangan selanjutnya rasio kelulusan Kweekschool Padang Sidempoean dari tahun ke tahun makin tinggi hingga mampu mencapai 100 persen.