Senin, Desember 01, 2014

Bag-7. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Kweekschool Padang Sidempoean, Sekolah Guru di Pedalaman dan Terpencil yang Melahirkan Orang-Orang Hebat di Nederlansche Indie’



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana Kota Padang Sidempuan tumbuh di masa doeloe? Mari kita lacak!

***
Kweekschool (Sekolah Guru) Padang Sidempoean dibuka pada 30 April 1879. Sekolah guru berkapasitas 25 murid pada tahun pertama dibuka sekolah ini hanya terdaftar 18 murid. Mengapa demikian? Karena seleksi masuk sangatlah ketat. Kemampuan orangtua dalam pembiayaan dan kemampuan siswa dalam memenuhi syarat akademik menjadi dua faktor berhasil tidaknya calon siswa dalam ujian saringan masuk.

***
Kepala sekolah, L.K. Harmsen, guru pangkat kelas-3 (asisten guru) sebelumnya adalah kepala sekolah di Kweekschool Fort de Kock. Harmsen tampaknya kurang sukses di Fort de Kock karena nyaris semua murid yang mengikuti ujian akhir gagal. Karenanya, Harmsen dipindahkan ke sekolah guru yang baru dibuka di daerah pedalaman yang lebih jauh dan terpencil di Sumatra’s Westkust di Padang Sidempoean. Belum genap dua tahun Harmsen menjabat, dia sudah sakit-sakitan. Lantas di akhir 1881 diangkat seorang guru bernama J.W. van Haastert untuk menggantikan posisi Harmsen sebagai kepala sekolah  (pejabat sementara). Saat yang bersamaan, C.A. van Ophuijzen (dari Probolinggo) ditugaskan untuk mendukung guru di Kweekshool Padang Sidempoean, lalu disusul pada pertengahan 1882 pengangkatan J. Postma sebagai guru di Kweekschool Padang Sidempoean.

Proses belajar mengajar di Kweekschool Padang Sidempoean tidaklah mudah di awal masa penyelenggaraannya. Selain guru-gurunya belum komplit (bertambah secara bertahap), juga adaptasi para muridnya juga tidak langsung tune in yang boleh jadi karena standar pengajaran di Kweekschool Padang Sidempuan yang tinggi. Dalam masa belajar banyak murid yang jatuh sakit dan bahkan mengidap beri-beri. Sebagaimana dikabarkan seorang pembaca di Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 06-05-1882 menyebutkan lebih dari separuh murid kelas tertinggi harus dirawat di rumah sakit.

Para orangtua murid sudah mulai was-was apakah anak-anak mereka akan bisa melanjutkan sekolah dan bagaimana nasibnya kemudian. Rasa kekhawatiran semakin memuncak ketika diberitakan oleh Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 12-10-1882 bahwa para calon guru di Kweekshool Ford de Kock yang mengikuti ujian akhir semuanya gagal. Apalagi dilaporkan De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 31-01-1884 terhitung 1 Februari bahwa  D. Grivel seorang guru di Kweekschhol Fort de Kock akan menjadi kepala sekolah yang baru Kweekschool Padang Sidempoean. 

Namun kekhawatiran para orangtua tidak berlarut larut karena lulusan pertama Kweekschool Padang Sidempoean tercapai juga. Bataviaasch handelsblad (10-07-1884) memberitakan bahwa pada bulan April telah dilangsungkan wisuda dimana dari semua murid kelas tertinggi terdapat lima murid yang gagal. Ini berarti dari 18 murid yang terdaftar ketika sekolah dibuka 1879 hanya lima yang gagal ujian akhir. Meski tidak seluruhnya dari angkatan pertama lulus, namun hal ini tetap dianggap sebagai suatu sukses. Sebab hal ini tidak pernah dialami Kweekschool Fort de Kock. Dalam perkembangan selanjutnya rasio kelulusan Kweekschool Padang Sidempoean dari tahun ke tahun makin tinggi hingga mampu mencapai 100 persen.

***
Keberhasilan Kweekschool Padang Sidempoen tidak hanya ditunjukkan oleh para murid-muridnya, tetapi juga para pengasuhnya. Koran Bataviaasch handelsblad, 10-07-1884 memberitakan juga bahwa Deputi Inspektur pendidikan asli Dr H.M.D. Van Riemsdijk, baru-baru ini, selama bulan April dan Mei tahun ini, melakukan pemeriksaan di wilayah Padang dan Tapanoeli terhadap guru kelas-2, dan kelas-3 (asisten guru).  Untuk pemeriksaan guru kelas-2 yang berada di region Tapanoeli terdapat lima kandidat yang terdaftar, sementara tiga dari mereka berhasil. Untuk pemeriksaan guru kelas-3 (asisten guru) di daerah Padang hanya satu yang lulus dari 42 calon dari tuntutan yang diinginkan.

HIS Padang Sidempoean, Eks Kweekschool Padang Sidempoean
Koran Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 16-12-1884 memberitakan suatu laporan penjajakan tentang perlunya reorganisasi pendidikan di Hindia Belanda. Di dalam laporan ini hanya kweekschool di Padang Sidempoean, Bandoeng, Probolinggo, Makassar, Tondano dan Amboina yang memenuhi kualifikasi. Departemen Onderwijs di Batavia mengapresiasi tingkat pencapaian di Kweekshool Padang Sidempoean. Bataviaasch handelsblad, 30-06-1885 memberitakan bahwa guru-guru utama kweekschool di Padang Sidempoean akan mendapatkan tunjangan prestasi. Khusus kepada Kepala Sekolah, D. Grivel di Padang Sidempoean yang akan mendapat cuti dua tahunan ke Eropa akan mendapatkan penghasilan keseluruhan sebesar 800 Gulden pada bulan terakhir dia mengajar.

Koran Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 14-07-1885 memberitakan pengangkatan Kepala Sekolah di Kweekschool Padang Sidempoean (Tapanoeli) L.G. van der Hoek, mantan kepala sekolah di Kweekschool di Tondano. Koran Bataviaasch handelsblad, 12-10-1886, memberitakan bahwa pemerintah memberikan  tunjangan untuk C.A. Ophuijsen, asisten guru di sekolah untuk guru asli Padang Sidempoean, setelah bulan Agustus 1885 untuk mendapatkan satu skema lain untuk membayar sejumlah £ 150  per bulan sebagai hadiah (tunjangan) untuk bertindak sebagai pejabat kepala sekolah (selepas D. Grivel dan sebelum kehadiran L.G. van der Hoek). Dalam perkembangannya C.A. van Ophuijzen diangkat menjadi kepala sekolah di Kweekschool  Padang Sidempoean (Koran Bataviaasch nieuwsblad, 02-02-1887). Selanjutnya koran Bataviaasch handelsblad, 28-01-1890 memberitakan pengangkatan C.A. van Ophuijzen sebagai Wakil Inspektur pendidikan di Hindia Belanda, yang kini sebagai asisten guru di Kweektchool Padang Sidempoean (pantai barat Sumatera). Ketentuan pengangkatan ini berlaku hingga mulai hari ketika penggantinya hadir. Kemungkinan yang menggantikannya adalah guru Kweekschool Padang Sidempoean yang tengah tidak aktif,  L.K. Harmsen (kepala sekolah yang pertama).

***
Sekolah bagus diasuh oleh guru yang bagus. Guru-guru yang bagus akan menghasilkan lulusan-lulusan yang bagus. Karena itu, Kweekschool Padang Sidempoean dinobatkan sebagai sekolah guru terbaik di Nederlansche Indie. Namun sayang, karena keterbatasan anggaran pemerintah, Kweekschool Padang Sidempoean ditutup pada tahun 1891 (tidak menerima murid baru, tetapi murid lama masih terus hingga lulus tahun 1893). Karena alasan non teknis geografis yang terpencil Kweekschool Padang Sidempoean terpaksa dikorbankan sementara Kweekschool Fort de Kock tetap dipertahankan. Koran De locomotief: Samarangsch handels-en advertentie-blad, 21-01-1893 akhirnya memberitakan bahwa Kweekschool Padang Sidempoean dipastikan akan ditutup, dimana kepala sekolah yang terakhir adalah D. Pronk. Koran De locomotief: Samarangsch handels-en advertentie-blad, 13-03-1893 memberitakan pengumuman pemerintah bahwa salah satu guru yang tersisa di Kweekschool Padang Sidempoean Ms. H.M.D. van Schuijlenburgh diminta membantu ke Kweekschool Fort de Kock selama empat bulan.

***
Koran Het nieuws van den dag : kleine courant, 16-06-1893 memberitakan bahwa pada tanggal 21-24 Maret 1893 di Kweekschool Padang Sidempoean dilakukan ujian akhir dimana jumlah yang berpartisipasi tujuh kandidat dan semuanya sukses. Namun ternyata kemudian mereka inilah lulusan terakhir di Kweekschool Padang Sidempoean. Nama-nama murid yang lulus adalah sebagai berikut:

    Si Loehoet galar Raja Enda Boemi datang dari Baringin.
    Si Julius galar Soetan Martoewa Radja, dari Si Pirok
    Si Tohir galar Marah Talang, dari Baroes
    Si Goenoeng galar Itadja Paloon Sotidijon, asal Pakantan Lombung
    Si Djaman galar Marah Alam, dari Si Toli (N'ias)
    Si Dangijang galar Radja Si Regar Indo Mora, dari Siala Goendi
    Si Tirem galar Dja Ali Saman, dari Si Pirok.

Terhadap murid yang tersisa di Kweekschool Padang Sidempoean dapat menyelesaikan studinya di Kweekschool Fort de Kock. Koran Bataviaasch handelsblad, 21-07-1893 memberitakan persetujuan terhadap enam siswa dari Kweekschool Padang Sidempoean untuk ditransfer ke Kweekschool Fort de Kock. Akhirnya, Kweekschool Padang Sidempoean benar-benar ditutup sama sekali dan aktivitasnya berakhir di tahun 1893.

***
Para lulusan Kweekschool Padang Sidempoean tidak ada yang menganggur, mereka bahkan telah menyebar ke berbagai penjuru angin. Ada yang terus menjadi guru dan mereka inilah setidaknya yang menjadi guru-guru di semua sekolah dasar negeri di Tapanoeli. Pada tahun 1892, sebagaimana diberitakan koran Algemeen Handelsblad, 23-11-1892 di wilayah pendidikan Padang Sidempoean terdapat sekitar 15 dari 18 sekolah negeri di Tapanoeli. Selain menjadi guru, ada pula yang menjadi pegawai pemerintah. Juga diantaranya ada yang kemudian terjun ke dunia jurnalistik dan pengarang. Kweekschool Padang Sidempoean, sekolah guru di pedalaman dan terpencil telah melahirkan orang-orang hebat di Nederlansche Indie**. Siapa mereka itu, mari kita lacak!  

  • Dja Endar Moeda yang kemudian dikenal sebagai Hadji Muhamad Saleh, memulai karir guru di Batahan dan menjadi editor majalah pendidikan dan kemudian beralih profesi pengarang lalu menjadi editor surat kabar dan selanjutnya menjadi pemilik koran Pertja Barat yang terbit di Padang. Dja Endar Moeda dinobatkan sebagai Raja Persuratkabaran di Sumatra karena satu-satunya pribumi yang telah memiliki percetakan dan memiliki beberapa surat kabar.
  • Soetan Casajangan Soripada yang memulai karir sebagai guru di Simapil-Apil dan kemudian melanjutkan pendidikan guru dan akta kepala sekolah ke Negeri Belanda. Semasa mahasiswa di Leiden, Soetan Casajangan menggagas berdirinya perhimpunan pelajar Hindia Timur dengan nama Indische Vereeniging (1908) yang kemudian menjadi Perhimpunan Indonesia (PPI). Kembali ke tanah air, Soetan Casajangan menjadi guru di berbagai tempat dan terakhir sebagai Direktur Normaalschool (sekolah guru) di Batavia.
  • Soetan Martoewa Radja memulai karir sebagai guru di Pargarutan kemudian di Sipirok dan terakhir menjabat sebagai Direktur Normaalschhol di Pematang Siantar. Soetan Martoewa Radja adalah ayah dari Mangaradja Onggang Parlindoengan--alumni pertama Jerman dan terakhir menjadi Direktur Pabrik Sendjata dan Mesioe di Bandung dengan pangkat terakhir Kolonel.
  • Taif Nasoetion menjadi guru di Aceh yang dikemudian hari dikenal sebagai ayah dari Muhammad Amin Nasoetion (sering disebut S.M. Amin). S.M. Amin adalah gubernur pertama dan gubernur ketiga Sumatra Utara. Setelah dari Aceh, Taif kembali ke Manambin, Mandailing kampong halamannya. S.M. Amin yang kelahiran Aceh memulai sekolah rakyat di Manambin dan diteruskan ke ELS lalu ke Batavia mengambil sekolah hukum untuk mengikuti dua abangnya yang telah studi di STOVIA.
  • Adem Loebis dikemudian hari dikenal sebagai ayah dari Kolonel Zulkifli Lubis. Adem Loebis tetap menetap di Aceh dan menyekolahkan Zulkifli mulai dari HIS kemudian MULO di Aceh dan AMS di Yogyakarta. Selama di Yogya Zulkifli masuk militer Jepang dan seterusnya berkarir di militer bidang intelijen. Di era republik, Zulkifli adalah Kepala Intelijen Negara dan juga pernah menjadi KASAD.
  • Mangaradja Gading yang memulai karir sebagai pegawai negeri dan penulis di kantor Residen Tapanoeli di Sibolga dan kemudian ditugaskan pemerintah ke berbagai daerah lain. Mangaradja Gading adalah ayah Abdul Hakim mantan Wakil Residen Tapanoeli, mantan Gubernur Sumatra Utara dan pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI.
  • Raja Enda Boemi memulai karir guru di Batang Toru. Radja Enda Boemi adalah ayah dari Alinoedin bin Radja Enda Boemi. Alinoedin adalah bergelar doktor (PhD) bidang hukum di negeri Belanda. Radja Enda Boemi adalah orang Batak pertama ahli hukum dan orang kedua di Sumatra serta satu diantara delapan ahli hukum asli pribumi di Nederlansche Indie.
  • Mangaradja Salamboewe, adalah seorang anak dokter djawa putra Mandailing. Salamboewe menjadi pegawai pemerintah dan diangkat menjadi jaksa di Natal. Karena kesewenang-wenangan Belanda terhadap rakyat, Salamboewe desersi dan menanggalkan jabatan. Lantas kemudian merantau ke Medan dan ditawari menjadi editor koran Pertja Timoer (koran berbahasa Melayu tetapi investasi bangsa Belanda) di Medan. Di kalangan pers Belanda, Salamboewe dikenal sebagai radja delik pers dan suka membantu orang yang membutuhkan keadilan baik orang kecil maupun orang-orang Belanda sendiri.
  • Lainnya, menyusul.

(bersambung)

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama, antara lain:
  • Topographisch Bureau, Batavia, Batavia: Kaart van Padang Si Dimpoewan en Omstreken (1880).
  • Kaart van het Gouvernement Sumatra's Westkust : opgenomen en zamengesteld in de jaren 1843 tot 1847 / door L.W. Beijerink met medehulp van C. Wilsen... et al. Beijerink, L.W., Topographisch Bureau, Batavia, 1852.
  • Peta 1830
  • Peta 1908
  • Peta 1943
  • Etappekaart Sumatra's West Kust, 1845
  • Almanak Pemerintahan Belanda
  • Koran-koran Belanda
  • Laporan Tahunan Pemerintahan Belanda
  • Observasi pribadi
**meminjam istilah Budi Hoetasoehoet

Tidak ada komentar: