18/11/16

Sejarah Kota Medan (48): Nama Medan Bukan Asli Tetapi Nama yang Diadopsi dari Eropa?



Sejauh ini belum ada yang mempertanyakan dari mana asal nama Medan. Sepintas semua tulisan berasumsi bahwa nama Medan asli dari tempatnya sendiri. Ada yang mengaitkan dengan Karo, ada juga yang mengaitkannya dengan Melayu. Meski demikian, tidak ada alasan yang kuat. Hanya menduga-duga. Soal ini tidaklah terlalu penting, tetapi menarik untuk ditulis.

Peta 1873
Hal ini juga terjadi pada nama Batak pada akhir-akhir ini. Ada yang menulis ‘Nama Batak Bukan dari Orangnya’. Tulisan lainnya menyebutkan ‘Nama Danau Toba Bukan Sebutan Berasal dari Orang Batak Tapi Buatan Jerman’. Semua itu menarik untuk ditulis dan mengundang pembaca untuk tertarik membacanya.

Nama-nama seperti Batavia, Buitenzorg, Depok tidak ada orang yang peduli. Semua orang hanya menganggap itu apa adanya, meski setelah itu namanya berubah menjadi Jakarta, Bogor. Depok ya tetap Depok. Tidak ada yang gaduh. Lantas bagaimana dengan nama Medan? Juga tidak menarik perhatian. Kecuali beberapa mengaitkan dengan Karo dan Melayu. Jika begitu, dari mana asal nama Medan? Mari kita lacak!

Nama Medan Dilaporkan Kali Pertama oleh de Caet, 1866

Nama Medan sebagai nama sebuah kampong disebut oleh de Caet, Controleur Deli ketika pada akhir tahun 1866 melakukan ekspedisi ke Bataklanden. Ekspedisi ini dilaporkan oleh de Caet pada tahun 1875.

‘…Rombongan ekspedisi ini berangkat tanggal 9 Desember. Pada pagi hari pukul Sembilan berangkat dari Labuan, ibukota Deli, kami akan menuju Kampong Baru (kini Medan Baru) yang diperkirakan akan tiba pukul lima sore. Beberapa kampong yang kami lewati adalah kampong Alai, kampung Gengah, kampoog Besar, Rantoe-Blimbing, Mertoeboeng, Rengas Sambilan, Kota Bangon, Mabar, Rengas Sekoepang, Poeloe Braian, Gloegoer, Medan Poetri, Kesawan dan Tebing Tinggi…’.

Nama kampong Medan juga dilaporkan oleh Controleur de Haan ketika tahun 1870 melakukan eskpedisi ke Bataklanden. Mereka berdualah yang pertama mencatat nama Medan dalam laporan masing-masing.

Dalam peta tahun 1873 (Topographische Dienst Hirsch en Fritz in 1872/ Topographisch Bureau in 1873) nama Medan ditulis sebagai Medan of Medan Poetri yang berada di dekat kampong Polonia dan kampong Kesawan.  

Dari nama-nama yang disebut nama Medan dan nama Polonia paling tidak sudah dikenal sejak 1866. Nama Medan dan Polonia sebelumnya belum ada yang melaporkannya. Nama Polonia muncul belakangan dan tidak pernah tercatat dalam laporan ekspedisi (kecuali dalam peta 1873). Nama Polonia diduga bukan nama kampong melainkan sebuah nama area tempat pemukiman baru bagi kegiatan perkebunan (homebase). Area ini berada diantara Medan Poetri dan Kesawan.

Nama Medan dan Polonia di dalam laporan ekspedisi yang dilakukan oleh seorang Inggris, John Anderson (1820-1823) tidak disebut. Laporan Anderson ini diterbitkan sebagai buku tahun 1848.

Nama Medan Sudah Sejak Lama Dikenal di Eropa

Dua diantara nama yang terkenal di era Belanda adalah Batavia dan Medan. Nama Batavia muncul menggantikan nama Sunda Kelapa di muara sungai Ciliwung. Nama Medan muncul menyebut nama area di pertemuan antara sungai Babura dan sungai Deli.

Sejauh yang dapat ditelusuri, nama Medan dicatat pertama kali tahun 1866. Sedangkan nama Batavia dicatat pertama kali tahun 1627.

Courante uyt Italien, Duytslandt, &c., 31-07-1627: ‘Cargo van de navolgende Schepen van Batavia in December 1626’. Courante uyt Italien, Duytslandt, &c., 16-07-1633: ‘Ladinghe van leven Oost-Indische Schepen, ses comende van Batavia’.

Sebelum nama Medan ditemukan di Deli, nama Medan sudah eksis jauh sebelumnya di Eropa.

Amsterdamse courant, 08-06-1737: ‘de Maerfchlkin van Medan…’. Utrechtsche courant, 19-02-1802: ‘ te Mallaga M. B. Dekker van.Medan’.

Bagaimana Nama Medan Muncul?

Seperti halnya Batavia, nama Medan diduga muncul sebagai penanda navigasi. Sebagaimana dicatat, orang Eropa pertama yang datang ke Deli untuk tujuan membuka perkebunan tembakau adalah Nienhuys dan dua orang Eropa, yakni JCLB Falk mewakili JF van Leeuwen & Co dan Mr. Elliot mewakili Maintz & Co. Ini terjadi pada tahun Maret 1863 (sebulan setelah ekspedisi Netscher ke muara sungai Deli. Asisten Residen Mr. Arnoudt di Bengkalis menunjuk Mr Locker de Bruin untuk mendampingi Nienhys dkk.

Ketika Nienhuys sendirian (teman-teman Eropanya tidak betah) beruntung masih ada teman setianya seorang kepala suku Batak (sebut Mr. Batak) yang selama ini memasok pekerja untuk kebutuhan Nienhuys dalam mengolah lahan dan menanam tembakau. Nienhuys dan Mr. Batak tidak mudah mendapatkan pekerja baik dari penduduk Melayu maupun penduduk Batak di Deli. Namun usaha mereka berdua yang telah berkeliling jauh ke pedalaman ke kampong-kampong Batak hingga jauh di pertemuan sungai Deli dan sungai Babura mendapatkan hasil beberapa pekerja.

Dalam perkembangannya, pemerintah melalui Resident Netscher menempatkan seorang controleur di Deli, Baron de Caet pada tahun 1864. Sebagaimana biasanya, Controleur dikawal oleh beberapa militer dalam menjalankan tugas di daerah baru. Controleur ini besar dugaan sudah melakukan ekspedisi melalui sungai ke pertemuan sungai Babura dan sungai Deli sebagaimana Nienhuys dengan temannya kepala suku Batak.

Pertemuan sungai Babura dan sungai Deli terdapat sebuah perkampungan. Perkampungan ini diduga bernama Poetri Hajau (mengacu pada hikayat yang ada). Sebagai penanda navigasi, orang-orang Eropa menyebutnya sebagai Medan Poetri. Dari sinilah diduga awal nama Medan muncul. Dalam perkembangannya, sebagaimana yang bisa ditelusuri dalam surat kabar waktu itu, lambat laun nama Medan Poetri mengalami reduksi dan hanya disebut sebagai Medan (saja) hingga sekarang.  

Jika nama Medan sudah sejak lama eksis di Eropa dan nama Medan tidak ditemukan dalam sumber lain, maka nama Medan merupakan nama adopsi dari Eropa. Nama Medan sebagai sebuah tempat baru muncul dalam laporan de Caet (1870) dan peta tahun 1873. Dalam hubungan ini tidak masuk akal jika nama Medan merupakan nama lokal, melainkan nama yang muncul kemudian yang diadopsi dari sebuah nama tempat di Eropa seperti halnya Batavia.

Area yang menjadi kampong asli dengan area yang menjadi lokasi kebun Nienhuys dipisahkan oleh sungai Deli yang tepat berada di hilir pertemuan sungai Babura dan sungai Deli. Area perkampungan asli besar kemungkinan bernama kampong Poetri Hidjaoe, sedangkan area perkebunan Nienhuys disebut Medan (suatu area tidak berpenghuni). Kombinasi nama Poetri Hidjaoe (suatu hikayat) dengan nama Medan (penanda navigasi) diringkas menjadi Medan Poetri. Lalu kemudian nama Medan Poetri mengalami reduksi (lafal) karena lidah Eropa menjadi hanya disebut Medan (saja).  

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: